TEKNOLOGI INFORMASI ITU HIGH COST ?

Posting yang saya copy paste dari e-tabloid Komunika tahun 2007 (06) yang diterbitkan oleh Badan Informasi Publik, Departemen Komunikasi dan Informasi (BIP-Depkominfo) Republik Indonesia, berkaitan isu TITAN / The Indonesia Technology Architecture Network yang sedang hangat dibahas 3 tahun yang lalu).

Richard (58 tahun) pegawai di sebuah instansi pemerintah bingung, setiap kali membeli peralatan untuk kebutuhan operasional kantor selalu saja dia harus mengalokasikan dana cukup besar. Belum lagi ketika ada masalah dengan peralatan yang digunakan. Contohnya mesin fotokopi yang baru dibeli kantornya beberapa waktu lalu, belum digunakan sebulan sudah mengalami kerusakan. Sekalipun ada jaminan purna jual, namun layanan yang diberikan kerap menunggu sebulan.

Padahal pekerjaan kantor tak kenal waktu, apalagi untuk pelayanan publik. Berkaca dari diskusi dengan teman-teman sekerja lainnya, akhirnya ia ambil sikap. Bagaimana cara memastikan peralatan dan sarana perkantoran tetap ada tapi tanpa dengan biaya dan waktu perbaikan yang terkadang sangat mengganggu kerja kantor sehari-hari. Setelah sekian lama akhirnya ia memutuskan untuk menyewa mesin fotokopi ke sebuah pengusaha kecil, “Selain bisa memastikan fotokopi bisa lancar, jaminan service lengkap, kita juga turut memberdayakan usaha kecil dan menengah,” katanya bersemangat.

Tampaknya analogi yang sama juga diusung melalui konsep The Indonesia Technology Architecture Network (TITAN). Secara prinsip TITAN adalah suatu arsitektur TIK (teknologi informasi dan komunikasi) Nasional yang sangat memperhitungkan aspek ekonomi dari TIK.

“Saat ini, biaya investasi serta pengoperasian TIK di berbagai instansi pemerintahan di negara kita ini ditengarai tidak ekonomis,” kata Riri Satria, Staf Pengajar Program Magister Teknologi Informasi Fakultas Ilmu Komputer UI, saat diwawancarai KomunikA lewat e-mail.

Secara faktual, biaya investasi instistusi pemerintah untuk TIK tidak sebanding dengan nilai pemanfaatannya.

“Artinya begini, jika banyak idle capacity untuk TIK di institusi itu, maka tentu saja cost per transaction akan tinggi, akibatnya pengoperasian TIK berjalan dengan ekonomi biaya tinggi,” katanya.

Belum lagi persoalan kecepatan perkembangan perangkat TIK yang sangat cepat, tentunya akan membuat pembelian sarana TIK akan ketinggalan trend, terlebih dalam pemerintahan ada prosedur pengadaan barang yang mesti dijalani.

“Ini yang menjadi perhatian kita bersama. TITAN lahir untuk memberikan solusi untuk hal ini. Prinsipnya mengubah capital expenditure (capex) menjadi operational expenditure (opex),” kata Dirjen Aplikasi dan Telematika Depkominfo, Cahyana Ahmadjajadi dalam diskusi terbatas tentang cetak biru arsitektur TIK Nasional di Jakarta beberapa waktu lalu.

Jika diterapkan, maka institusi pemerintahan akan mengoperasikan TIK sesuai dengan kebutuhannya dengan tingkat biaya yang wajar. Lebih jauh lagi, institusi pemerintah tidak terlalu dipusingkan oleh urusan TIK yang kompleks dan bisa fokus kepada tugas pokok dan fungsi utamanya.

“Di sisi industri TIK di Indonesia, terbuka peluang untuk ikut berkontribusi untuk kepentingan nasional dengan jelas, karena kebutuhan TIK tertata dengan jelas,” tegas Cahyana.

Hal senada juga diungkap Riri, yang menggangap institusi pemerintahan akan dimudahkan, “tidak perlu dipusingkan dengan masalah TIK yang kompleks, dan bisa fokus kepada tugas pokok dan fungsi utamanya, termasuk dari sisi biaya operasionalnya,” tegas Riri.

Dimulai dari Pemerintah Kebutuhan pelayanan publik melalui teknologi informasi dan komunikasi yang lebih cepat dan terinegrasi mendasari penyusunan konsep TITAN.

“Pertama yang diharapkan sebagai pengguna (user) adalah institusi pemerintah, tetapi tidak tertutup kemungkinan ke depan pihak lain juga ikut,” jelas Kemal Stamboel, Wakil Ketua Pelaksana Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (DTIKN).

Saat ini memang baru sampai penyusunan cetak biru, namun langkah implementasi akan lebih matang dibicarakan lewat diskusi publik yang intensif dengan komunitas TIK dan instansi pemerintah.

“Dengan model TITAN, maka bisa kita lihat terdapat berbagai perubahan yang terjadi, baik di tingkat proses kerja, tatanan organisasi, maupun di tingkat regulasi, ” kata Riri.

Di tingkat proses kerja, misalnya, operasional harian pusat TIK tentu tidak lagi berada di instansi pemerintahan tersebut, melainkan ada di vendor-nya. Dengan demikian perlu dikembangkan suatu mekanisme vendor management di instansi pemerintahan, bagaimana pembagian peran dengan vendor, referal system-nya bagaimana, dan sebagainya.

Konsep TITAN diakui banyak pihak sebagai suatu breakthrough atau terobosan, mengubah paradigma berpikir yang ada saat ini. Organisasi tentu juga berubah, terutama organisasi yang mengurusi TIK di instansi pemerintahan.

“Ada penambahan dan pengurangan peran. Misalnya, peran maintenance tidak terlalu signifikan lagi, tetapi peran vendor management menjadi penting,” kata Riri yang aktif mengisi berbagai seminar TIK.

Bagaimanapun, pengelolaan teknologi mensyaratkan pemahaman cukup tentang cara mengelola teknologi tersebut. Sebagai alat untuk menyampaikan dan memberikan proses pemberian jasa atau pelayanan kepada publik, teknologi yang ada harus dikelola secara serius guna kepentingan publik.

“Tidak bisa untuk dikelola sebagai sesuatu yang setengah-setengah tanpa gambaran menyeluruh,” tukas Riri. Mengubah capex menjadi opex memag merupakan terobosan serta mengubah paradigma. Ini yang menbuat kita harus hati-hati untuk menerapkannya. Hambatan terbesar menurut Riri adalah masalah sumber daya manusia.

Berbicara mengenai SDM, maka kita perlu mempertimbangkan tiga komponen, yaitu tahu, mampu, dan mau. Secara umum, ketiga komponen itu berurutan.

“Orang tidak akan mau berubah, kalau dia tidak yakin mampu berubah. Orang tidak akan mampu berubah. Kalau dia tidak tahu mengenai apa yang mesti berubah. Jika ketiganya sudah ditangani dengan baik, maka bisa dikatakan SDM-nya siap,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s