BRAINSTORMING DAN FOCUS GROUP DISCUSSION

Saya pernah diundang oleh sebuah organisasi untuk menjadi panelis / narasumber / peserta dalam kegiatan focus group discussion (FGD). Kegiatan FGD ini merupakan suatu proses untuk menyusun rencana stratejik (renstra) organisasi ini ke depan. Wuih, saya sempat kaget juga, kayaknya saya yang paling muda di antara peserta. Lainnya, ada para profesor, anggota DPR, pejabat pemerintah, dan sebagainya. Tetapi walaupun demikian, saya happy saja dan yakin, kegiatan ini akan sangat challenging dan exciting, karena topik yang dibahas ini sangat serius menurut saya.

Hanya ternyata di dalam perjalanannya, ternyata forum ini berubah menjadi brainstorming, bukan FGD. Sehingga kita memang tidak membahas isu-isu yang ada secara fokus, tetapi membahas dan mengelaborasi apapun yang berkaitan dengan lembaga ini. Pada surat undangan yang saya terima, ini sudah kegiatan FGD yang kesekian. Jadi dalam persepsi saya, tentu pembahasan sudah sangat fokus dan mengerucut terhadap berbagai isu yang muncul. Tetapi ternyata dugaan saya keliru. Pembahasan masih simpang-siur, dan memang belum fokus, dan masih mengelaborasi banyak hal di sana-sini.

Oke, ini mungkin hanya masalah istilah, tetapi memang terdapat perbedaan yang mendasar antara brainstorming dan FGD. Sejatinya, sebelum dilakukan FGD, memang didahului oleh kegiatan brainstorming. Pada tahap brainstorming, memang pembahasan belum fokus, malahan bisa jadi belum ada pembahasan. Setiap peserta panel diskusi bebas mengutarakan apa yang dipikirkan, tentu saja yang berkaitan dengan obyek yang dibahas. Bisa saja bentuknya identifikasi persoalan, atau pengalaman praktik masa lalu, kecaman masyarakat, pendapat berbagai stakeholders, dan sebagainya. Semua pendapat yang muncul dalam brainstorming ini kemudian yang harus disistematikakan oleh tim khusus sehingga menjadi berbagai isu yang siap dibahas pada diskusi yang lebih terstruktur, yaitu FGD.

Pada FGD, kita sudah membahas isu-isu yang sudah disusun oleh tim khusus berdasarkan hasil brainstorming sebelumnya. Pembahasan pada FGD sangat fokus, isu demi isu dibedah satu per satu sehingga menghasilkan kesimpulan yang fokus juga untuk setiap isu. Jika diperlukan, berbagai metode bisa dipergunakan di sini, misalnya SAST (strategic assumption surfacing and testing) untuk memunculkan asumsi, atau ANP (analytical network process) untuk menyusun prioritas dan membuat keputusan, serta berbagai kerangka manajemen untuk template organisasi seperti balanced scorecard, Malcolm Baldridge, dan sebagainya. Tetapi, pendekatan yang lebih kualitatif pun tidak masalah, selama kita fokus membahas isu demi isu yang ada.

Jadi, brainstorming dan FGD memiliki karakteristik yang berbeda. Brainstorming bersifat menyebar, karena kita harus mengelaborasi semua hal dan mencoba untuk menangkap big picture dari persoalan. Sementara itu FGD lebih bersifat mengerucut, di mana kita fokus membahas isu demi isu yang muncul dari tahap brainstorming, sehingga menghasilkan solusi nantinya.

Salam
Riri Satria

8 responses

  1. knowledge sharing is my passion
    boleh2..hahahaha..
    walau artikel ini di tulis tahun 2010 tetap berguna sampai kapan pun..
    now 2014
    thx for explain😀

  2. […] Acara FGD dibuka oleh Wakapolri, Bapak Komjen Pol. Nanan Soekarna dan sekaligus memberikan beberapa pandangan mengenai jalannya proses restrukturisasi. Pak Nanan sendiri adalah Ketua Tim Restrukturisasi Polri pada tahun 2009 – 2010 yang lalu. Setelah beberapa sambutan-sambutan, maka saya langsung memimpin jalannya proses FGD. Saya membuat skenario di mana FGD dilakukan dengan brainstorming terlebih dahulu, di mana proses diskusi berjalan secara divergen dan semua pihak boleh memberikan pendapat dari perspektif manapun. Setelah makan siang, saya mengupayakan diskusi berjalan secara konvergen, di mana sidah terjadi pengerucutan opini atau pendapat, dan diakhiri dengan pembuatan kesepakatan. (teori tentang FGD pernah saya tulis di sini). […]

  3. […] rangka mewujudkan prime mover ini, maka dua yang ini (17-18/09/2012), saya memandu focus group discussion (FGD) untuk rising ideas dari para pejabat eselon II dan III di lingkungan Setjen mengenai prime […]

  4. […] Acara FGD dibuka oleh Wakapolri, Bapak Komjen Pol. Nanan Soekarna dan sekaligus memberikan beberapa pandangan mengenai jalannya proses restrukturisasi. Pak Nanan sendiri adalah Ketua Tim Restrukturisasi Polri pada tahun 2009 – 2010 yang lalu. Setelah beberapa sambutan-sambutan, maka saya langsung memimpin jalannya proses FGD. Saya membuat skenario di mana FGD dilakukan dengan brainstorming terlebih dahulu, di mana proses diskusi berjalan secara divergen dan semua pihak boleh memberikan pendapat dari perspektif manapun. Setelah makan siang, saya mengupayakan diskusi berjalan secara konvergen, di mana sidah terjadi pengerucutan opini atau pendapat, dan diakhiri dengan pembuatan kesepakatan. (teori tentang FGD pernah saya tulis di sini). […]

  5. […] lakukan focus group discussion. Khusus untuk hal ini, saya pernah menulis catatan tersendiri (silakan dibaca di sini). #2 : Pihak yang berseberangan akan selalu mencari teman, tetaplah netral, dan berada pada koridor […]

  6. He..he..he… jadi inget cerita itu waktu Bapak mengajar kami dulu… Sedikit memalukan ya Pak? Sepertinya yang ikut orang-orang “sangar”, namun salah dalam memakai istilah…:mrgreen:

    1. heheh .. masih ingat aja .. mudah2an gak begitu nanti ya Mas ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s