MENGENANG SI BURUNG MERAK

ws-rendra

Gara-gara membaca tulisan di Kompas Minggu barusan, maka saya ikut-ikutan posting ini (walaupun modifikasi dari tulisan saya yang lama tentang si penyair legendaris, Rendra). Percaya atau tidak, walaupun kuliah di bidang ilmu komputer, lalu melanjutkan ke pasca sarjana ilmu manajemen, lalu berprofesi sebagai konsultan dan akademisi, saya termasuk pengagum WS Rendra.

Saya mengoleksi banyak buku puisi beliau, antara lain “Blues untuk Bonnie”, “Empat Kumpulan Sajak”, “Rick dari Corona”, “Sajak Rajawali”, “Potret Pembangunan dalam Puisi”, dan “Sajak Seonggok Jagung”.

Dulu waktu di SMA, saya bersama kawan-kawan sempat membuat pementasan puisi, walaupun hanya untuk keperluan internal sekolah, dan pada masa-masa itu, karya-karya WS Rendra sangat mempengaruhi kami dalam pementasan tersebut. Sejak itu saya mulai bisa mengapresiasi kekuatan sebuah puisi.

Ternyata kumpulan kata-kata itu memiliki kekuatan yang luar biasa. Dan memang, karya-karya Rendra menunjukkan kekuatan tersebut. Sang seniman besar telah berpulang. Dia sudah kembali menuju rumahnya di atas angin. Tetapi karyanya tetap dibicarakan, dibahas, dipentaskan, bahkan didiskusikan di kalangan akademik.

Saya paling suka Sajak Seonggok Jagung (1975 — saya membacanya baru pada tahun 1986 — 11 tahun setelah dtulis Rendra), yang menunjukkan betapa besarnya perhatian Renda terhadap pendidikan. Cuplikannya:

Aku bertanya:
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang
belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
atau apa saja,
bila pada akhirnya,
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata:
“ Di sini aku merasa asing dan sepi!”

Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon (1977 – Potret Pembangunan dalam Puisi) juga menarik perhatian saya saat itu. Itu adalah kisah bagaimana dinamika pembangunan menimbulkan ketidakadilan pada banyak orang, dan ada orang yang termarginalkan. Cuplikannya :

Inilah sajakku,
seorang tua yang berdiri di bawah pohon meranggas,
dengan kedua tangan kugendong di belakang,
dan rokok kretek yang padam di mulutku.
Aku memandang zaman.
Aku melihat gambaran ekonomi
di etalase toko yang penuh merk asing,
dan jalan-jalan bobrok antar desa
yang tidak memungkinkan pergaulan.
Aku melihat penggarongan dan pembusukan.
Aku meludah di atas tanah.
Aku berdiri di muka kantor polisi.
Aku melihat wajah berdarah seorang demonstran.
Aku melihat kekerasan tanpa undang-undang.
Dan sebatang jalan panjang,
penuh debu,
penuh kucing-kucing liar,
penuh anak-anak berkudis,
penuh serdadu-serdadu yang jelek dan menakutkan.
Aku berjalan menempuh matahari,
menyusuri jalan sejarah pembangunan,
yang kotor dan penuh penipuan.
Aku mendengar orang berkata:
“Hak asasi manusia tidak sama dimana-mana.
Di sini, demi iklim pembangunan yang baik,
kemerdekaan berpolitik harus dibatasi.
Mengatasi kemiskinan meminta pengorbanan sedikit hak asasi”

Dan, hari-hari menjelang beliau pergi selamanya menghadap Allah SWT, sebuah puisi pun dibuat di rumah sakit, seakan pertanda beliau siap untuk dipanggil :

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi

Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah

Tuhan, aku cinta padamu

Rendra
31 July 2009
Mitra Keluarga

Semoga beristirahat dengan tenang di alam sana …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s