KEPUTUSAN DENGAN INFORMASI TERBATAS

Ini sebuah film yang sudah cukup lama, menceritakan kisah di sebuah kapal selam nuklir AS, USS Alabama, yang diperintahkan oleh panglima tertinggi AL untuk meluncurkan peluru kendali berkepala nuklir untuk meng-counter rudal sejenis yang diluncurkan menuju wilayah AS dari instalasi nuklir Rusia yang direbut oleh pemberontak ultranasionalis Rusia. Perintah diterima oleh pimpinan kapal selam, lalu setelah diotentifikasi, ternyata valid dan otentik, dan itu berarti perintah harus dilaksanakan.

Menurut prosedur baku, peluncuran peluru kendali nuklir harus disetujui oleh 2 pihak, yaitu kapten kapal (CO / commanding officer) serta XO (executive officer). Jika kedua pihak ini setuju, maka kode eksekusi ada di tangan perwira senjata (WEPS / weapon officer). Hanya saja, menjelang peluncuran, USS Alabama terlibat pertempuran dengan kapal selam Rusia yang dikendalikan oleh para pemberontak, sehingga membuat mereka bermanuver di bawah laut, dan tentu saja saluran komunikasi putus. Sesaat menjelang komunikasi putus, mereka menerima perintah lanjutan dari panglima tertinggi AL tentang peluncuran peluru kendali nuklir tersebut, tetapi transmisi pesan terputus, sehingga tidak diketahui maksudnya.

Sementara persiapan peluncuran rudal nuklir sudah dimulai, tetapi mereka tidak bisa menkonfirmasi ulang perintah yang terakhir karena terlibat pertempuran di bawah laut, dan akibat pertempuran, USS Alabama mengalami kerusakan, termasuk saluran komunikasi.

Di sini, USS Alabama mengalami masalah, apakah tetap meluncurkan rudal nuklir tadi atau membatalkannya? Bagaimana jika perintah terakhir yang tidak legkap tadi ternyata merupakan perintah pembatalan? Tetapi juga bisa perintah lanjutan untuk mempertegas peluncuran …

CO berpendapat, peluncuran rudal nuklir tetap harus dilakukan, karena berpedoman kepada aturan baku angkatan laut AS, di mana dalam situasi komunikasi terputus, maka yang harus dilaksanakan adalah perintah terakhir yang jelas dan otentik, dalam hal ini adalah, menembakkan rudal nuklir. Waktu sudah sangat tipis, dan USS Alabama sudah tidak punya waktu lagi. Hal ini diperkuat dengan aturan angkatan laut AS yang memberikan otoritas penuh kepada CO untuk memutuskan apa yang terbaik dengan mempertimbangkan semua situasi, termasuk perintah yang masuk. CO berpendapat, kalau USS Alabama menunda peluncuran rudal nuklir, maka bisa jadi rudak nuklir Rusia sudah menghantam tanah AS, dan USS Alabama terlambat menyelamatkan warga AS di tanahnya sendiri.

XO berpendapat, peluncuran rudal harus ditangguhkan, sampai mendapatkan konfirmasi ulang, apa isi perintah terakhir. Ini masalah rudal nuklir, bukan sekedar torpedo semata, dan kalau ternyata perintah terakhir tadi adalah pembatalan dan USS Alabama tetap meluncurkan rudal, maka ini akan menimbulkan krisis baru, walaupun kita bisa bersembunyi dengan dalih komunikasi terputus.

Menurut aturan angkatan laut AS, jika XO tidak setuju, maka perintah tidak bisa dieksekusi. Berdasarkan aturan juga, CO membebastugaskan XO dan menggantinya dengan XO yang baru, dan menahan XO dengan alasan membangkang terhadap perintah.

XO melawan, dengan alasan aturan angkatan laut AS juga. Mengapa diadakan jabatan XO? Supaya terjadi mekanisme collective decision making, sehingga keputusan yang dibuat sudah mendapatkan pertimbangan dari berbagai pihak, dan itu adalah yang terbaik. Dengan membebastugaskan XO, maka CO juga membangkang kepada aturan angkatan laut AS.

Tinggal WEPS yang berada dalam kondisi dilematis, yang akhirnya juga tidak mematuhi perintah CO untuk menembakkan rudal nuklir.

Ringkas cerita, semua berakhir dengan happy ending. Hanya saja, situasi dilematis saat pembuatan keputusan yang penuh konflik itu menjadi sorotan petinggi angkatan laut AS. Mereka pun tidak bisa menilai, siapa yang benar, dan siapa yang salah, tetapi konflik kepemimpinan terjadi di USS Alabama, dan membuat situasi keberpihakan anak buah kapal menjadi terpecah, dan juga terlibat konflik.

Lessons learned dari film ini :

1. Pada kondisi informasi yang terbatas, memang tidak ada kondisi yang ideal. Keputusan yang dibuat juga tidak akan ideal, kalau pun pas benar, besar kemungkinan itu adalah kebetulan. Pada situasi krisis yang minim informasi dan mengharuskan sebuah keputusan dibuat dengan cepat, maka kita bisa menyalahkan pembuat keputusan apabila ternyata dia membuat keputusan yang tidak ideal. Sebuah penjelasan tetap diperlukan, dan selama dia tidak menambrak rambu apapun, ya kita tidak bisa menyalahkan dia.

2. Memang di dunia ini tidak mungkin ada kondisi yang selalu ideal seperti dalam buku teks di dalam kelas. Dengan demikian, perlu suatu prosedur yang memberikan otoritas kepada pimpinan di lapangan (dalam hal ini CO dan XO) untuk membuat keputusan sesuai dengan pertimbangan mereka. Otoritas ini dijamin oleh aturan baku angkatan laut AS. Terutama dalam kondisi krisis.

3. Dalam kondisi tidak krisis, maka keputusan strategis harus dikembalikan kepada otoritas tertinggi. Pada film ini, akhirnya otoritas peluncuran rudal nuklir ada di tangan Presiden AS. Ini dilakukan karena perang dingin sudah berakhir, dan tidak ada lagi krisis senjata nuklir dalam kondisi gawat. Keputusan teknis operasional bisa diserahkan kepada pimpinan di lapangan, tetapi harus selaras dengan keputusan stratejik.

4. Dalam kondisi kritis sekalipun, kepemimpinan harus tetap solid, kalau tidak, akan menyebabkan krisis kepemimpinan, dan yang menderita adalah para bawahan, dan kalau di negara, itu adalah rakyat.

Beranikah kita membuat keputusan dengan informasi terbatas?

Salam
Riri Satria

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s