KISAH SEPENGGAL MALAM

“Apa yang kamu lihat?”, aku mencoba memecah kesunyian. Dari tadi aku memperhatikan kamu duduk diam menatap gelap malam ke luar jendela.

“Aku melihat mobil yang lalu-lalang di jalan”, katamu tanpa sedikitpun menoleh kepada diriku. Entahlah, apakah benar kamu melihat mobil yang dihiasi lampu-lampu menerangi jalanan, atau hanya menatap kosong ke luar jendela yang gelap, walaupun malam ini begitu cerah disirami kerlap-kerlip lampu yang mempesolek dirinya.

Aku terdiam kehilangan bahan untuk bicara. Tak sengaja, aku ikut menatap ke luar jendela melihat lampu-lampu yang lalu lalang di jalan sampai dengan yang menghiasi dan dengan congkaknya bersingasana di puncak gedung tinggi.

Tak satu pun kalimat yang terucap setelah itu. Hening.

“Apa yang terlihat tidak selalu yang sebenarnya”, tiba-tiba kamu memecah kesunyian, walau tetap tidak menoleh ke arahku.

“Iya, seperti lampu-lampu di luar sana mempesolek malam, sesungguhnya di balik kerlap-kerlip itu tersimpan kisah cerita yang tak terlihat di jalanan, lorong-lorong, bahkan di semua penjuru kota”, aku mencoba mengikuti jalan pikiranmu. “Kisah-kisah itu tidak pernah diketahui orang banyak, hanya segelintir yang tahu, dan semua pun akan selesai begitu saja begitu matahari datang di pagi hari”, kataku sambil menebak apa yang ada di pikiranmu.

Ada sedikit senyuman terbentuk di wajahmu, sambil menoleh ke arahku.

“Begitulah kehidupan”, katamu. “Kita sering tidak bisa jujur kepada kehidupan. Ibarat malam yang indah disirami kerlap-kerlip lampu. Tetapi banyak kisah yang tak terungkap dan menghilang seiring berlalunya hari”, bicaramu terdengar agak pelan.

Iya, kita sering tidak bisa jujur kepada kehidupan. Aku mengiyakan pendapatmu. Sejatinya, kita membangun dan menjalani kehidupan dengan kejujuran. Tetapi sering kita mempesolek kejujuran, dan dia kehilangan makna.

Sejenak aku menikmati senyum di wajahmu, seiring dentang jam tengah malam berlalu …

4 responses

  1. ‘Kamu’nya saya? Huwaa! Malem-malem nongkrong dimana, Mas? πŸ˜€

    Ngomong-ngomong, Mas Riri suka musik ya. Saya pernah menulis tentang musik di http://tutinonka.wordpress.com/2008/11/18/hiduplah-dengan-musik/
    Selain tulisan di atas, ada beberapa tulisan lain tentang musik, di Kategori “Musik & Lagu”

    Kalau ada waktu, saya akan sangat senang jika Mas Riri bersedia mengomentari. Terimakasih sebelumnya …πŸ™‚

    1. iya, saya memang suka musik .. mungkin karena dilarang or-tu aja dulu waktu SMA saya gak jadi nge-band … sekarang kedua anak saya belajar musik … saya sih suka main di waktu senggang aja (yang mulai sedikit) …

      oke, akan saya baca n komentari Mbak … trims yaπŸ™‚

  2. Bertanya-tanya, siapakah ‘kamu’ dalam kisah di atas, Mas Riri? πŸ™‚

    1. Bagaimana jika seandainya itu Mbak Tuti? :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s