TENTANG SEKOLAH

Ada sebuah buku yang ditulis oleh Robert Kiyosaki yang menurut saya layak untuk diperhatikan, karena memang kontroversial, judulnya “If You Want to be Rich and Happy, Don’t Go to School”. Ada kata-kata school atau sekolah pada judul buku tersebut, dan ditempatkan dalam suatu makna yang negatif. Seakan-akan sekolah dibuat bertentangan dengan kekayaan (harta) serta kebahagiaan. Apakah memang benar demikian? Entahlah. Mungkin ada benarnya juga. Apalagi untuk mereka yang “ogah” sekolah, buku ini memberikan pembenaran. Gawatnya, kalau pembenaran itu dikampanyekan supaya menjadi suatu aksi publik. Ini yang perlu kita kritisi bersama.

Ada 2 (dua) hal yang menjadi perhatian saya di sini, yaitu (1) sekolah itu sendiri, serta (2) persepsi tentang sekolah. Berbicara tentang sekolah, tentu kita tidak bisa memisahkannya dalam suatu sistem besar, yaitu pendidikan.

Dalam filsafat, tepatnya filsafat ilmu pengetahuan, maka setidaknya kita mengenal 3 (tiga) istilah, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Secara definisi sederhana, ontologi adalah ilmu pengetahuan apa atau what, lalu epistemologi berbicara mengenai dari mana mendapatkan ilmu pengetahuan atau metodologi, sifatnya proses penalaran. Terakhir, aksiologi membahas untuk apa ilmu pengetahuan itu dipergunakan atau what for. Aksiologi inilah yang akan menjadi fokus perhatian saya pada catatan ringkas ini.

Apakah gunanya sekolah? apakah gunanya pendidikan secara umum? Mari kita mulai dengan isu persepsi tentang sekolah. Apakah sekolah itu harus mampu membuat orang jadi kaya? Kalau definisi kaya kita itu adalah kaya material atau harta, memang mungkin tidak perlu sekolah. Kalau sekedar kaya dan punya harta, jadi maling pun bisa kaya, atau jadi penipu, serta mengerjakan pekerjaan yang tidak halal lainnya pun bisa kaya. Dalih apapun bisa dibuat untuk melegitimasinya. Jadi, memang kalau hidupnya mau sekedar kaya harta doang, ya gak perlu sekolah lah.

Sekolah sejatinya memiliki tujuan yang jauh lebih besar. Meminjam istilah Daniel Goleman, sekolah atau pendidikan pada lingkup yang lebih besar, harus mampu membentuk emotional intelligence, social intelligence, dan ecological intelligence, serta spiritual intelligence seperti yang disampaikan oleh Ian Marshall dan Danah Zohar. Dengan demikian, sekolah bisa membentuk orang menjadi sekedar mandiri atau kaya secara harta, tetapi juga memiliki karakter yang positif untuk kehidupan, baik untuk diri sendiri (emotional intelligence), kepada masyarakat (social intelligence), kepada alam dan lingkungan hidup (ecological intellgence), serta kepada Sang Pencipta, Yang Maha Kuasa (spiritual intelligence).

Kembali, ke filasafat ilmu pengetahuan, sekolah atau pendidikan harus mampu memberikan ilmu pengetahuan (ontologi), mempertajam penalaran (epistemologi), dan memberikan karakter positif kepada manusia agar memanfaatkan ilmunya agar bermanfaat (aksiologi), tidak hanya untuk dirinya, melainkan juga masyarakat dan alam atau lingkungan hidup. Jadi memang tidak sekedar menjadi kaya harta semata.

Seorang ahli keuangan yang handal, tetapi ternyata melakukan rekayasa keuangan sehingga merugikan banyak pihak, menunjukkan ketidakseimbangan antara ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Dia memiliki ontologi yang hebat (manajemen keuangan), epistemologi yang hebat (nalar dan analisis keuangan yang hebat), tetapi aksiologi yang rendah (digunakan untuk menipu orang banyak melalui rekayasa keuangan). Masalahnya, aksiologi lebih banyak dibentengi oleh etika, hati nurani, ketimbang hukum positif.

Dengan demikian, sekaligus menjawab isu yang satu lagi, yaitu sekolah itu sendiri, maka sekolah perlu atau pendidikan secara umum harus mampu menyeimbangkan aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi, dan tentu saja aksiologi yang membawa perbaikan terhadap kehidupan dan manfaat untuk manusia dan alam atau lingkungan hidup. Dari sisi ontologi ekonomi dan bisnis, maka aksiologi yang harus dibentuk adalah pemanfaatan untuk kewirausahaan, manajer, dan sebagainya, tetapi dalam koridor emotional intelligence, social intelligence, dan ecological intelligence, serta spiritual intelligence.

Sejatinya sekolah atau pendidikan harus mampu menyeimbangkan ketiga aspek tersebut … ontologi, epistemologi, dan aksiologi …. Menurut saya, itulah sekolah yang sebenarnya. Bagaimana menurut Anda?

Salam
Riri Satria

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s