JEJARING SOSIAL : NGERUMPI.COM

Ini adalah ringkasan hasil “kencan” saya sama si Mbok Venus alias Driana, pawangnya ngerumpi.com, sambil santai di Cuppa Coffee sore-sore di Cibubur beberapa waktu yang lalu.

Well, saya sedang melakukan riset untuk disertasi saya mengenai social networking / social capital dan internet (khususnya web 2.0). Nah, salah satu case study-nya adalah ngerumpi.com ini, di samping beberapa komunitas lainnya yang terbentuk melalui internet. Risetnya dilakukan dengan metode kualitatif, dan si Mbok adalah responden pertama yang saya minta opininya untuk prelimenary interview (fase awal riset).

Saya sudah mengamati beberapa komunitas yang terbentuk melalui fasilitas di internet, dan ngerumpi.com adalah salah satu yang menurut saya termasuk perkembangannya pesat. Apa definisi berkembang pesat? Artinya, terbentuk suatu social networking yang dilanjutkan dengan berbagai collective action, mulai dari yang sederhana (sekedar ngumpul dan diskusi) sampai dengan yang kompleks (melakukan aksi nyata).

Ngerumpi memang masih termasuk ke dalam kategori social networking fase awal (tetapi sudah terwujud). Sementara itu yang termasuk kategori fase lanjut adalah BFL (Blood for Life) yang bahkan sampai membuat Silly (selaku penggagas dan aktivisnya) diundang oleh IDI (Ikatan Dokter Indonesia) untuk presentasi tentang BFL dalam sebuah seminar. Lalu ada juga gerakan yang mendukung Prita, ini juga sangat dahsyat. Banyak lagi contoh-contoh yang lain. Intinya adalah, internet (umumnya melalui media web 2.0, walaupun tidak semua, misalnya BFL masih aktif melalui milis) mampu membentuk suatu social networking atau ada juga yang menyebutnya social capital. Sudah banyak riset yang menunjukkan hal ini, antara lain dilakukan di AS, Brazil, Mesir, dan Swedia. Berkaitan dengan riset yang saya lakukan, saya ingin melihat apakah teori digital society, collective learning, dan social capital juga terjadi dan bahkan bersinergi di Indonesia ini ? (tentu saja terbatas untuk masyarakat yang sudah in-touch dengan internet).

Menarik untuk membandingkan beberapa komunitas yang dibangun melalui internet di Indonesia, di mana ada yang berkembang pesat, tetapi ada juga yang menurun. Apakah ini trend sesaat ? Tidak juga. Buktinya, ada yang terus berkembang, tetapi memang ada juga fakta yang menunjukkan suatu komunitas hanya trend sesaat.

Ngerumpi termasuk yang perkembangan pesat, bahkan sangat pesat. Bahkan si Mbok Venus sendiri tidak percaya bahwa akhirnya ngerumpi akan jadi seperti ini. Bayangannya tadi hanyalah semacam majalah wanita online, tetapi ternyata menjelma menjadi sebuah komunitas saling berbagi, bahkan diistilahkan menjadi semacam “extended family“.

Mengapa ngerumpi bisa seperti itu ? Saya menyimpulkan (setelah diskusi dengan si Mbok), ada beberapa hipotesis:

Pertama, komunitas ngerumpi memang wanita (hanya diramaikan oleh beberapa gelintir penjantan hehehe), dan secara naluriah itu memang wanita lebih menyukai kebersamaan (kolektif), dan bahkan keharmonisan. Itulah sebabnya, suasana di ngerumpi terasa harmonis, nyaman, dan sejuk. Bandingkanlah suasana ini dengan saudara ngerumpi yaitu politikana. Politikana memang sudah membentuk suatu “komunitas pemerhati politik” di melalui internet, tetapi apakah sudah membentuk social networking? Ini masih menjadi pertanyaan.

Kedua, ngerumpi itu memiliki 2 icon, yaitu Silly dan Venus, yang sudah dikenal di kalangan dunia maya sebagai blogger yang menulis banyak hal yang selaras dengan topik di ngerumpi. Jadi ada semacam keselarasan atau kesesuaian antara “karakter icon” dengan topik bahasan komunitas di ngerumpi. Ini tidak terjadi di saudara-saudaranya ngerumpi, kecuali di langsungenak.com. Akibatnya, kedua icon ini bisa membaur dengan komunitasnya dan menjadi motor untuk menggairahkan diskusi, bahkan sampai membuat aksi nyata (setidak berbentuk kopdar dan penerbitan buku pada fase awal ini). Saya malahan tertarik membuat research question, apakah komunitas berbasis web ini juga membutuhkan icon atau semacam panutan supaya bisa berkembang? Ini kajian menarik.

Ketiga, kedua icon di atas, nimbrung hampir tiap hari di ngerumpi. Mereka menjadi motor untuk menciptakan maraknya diskusi. Hal yang sama juga terjadi di kompasiana, langsungenak, dan mungkin juga politikana (tetapi banyak anonim sih, susah mengamatinya).

Keempat, suasana diskusi di ngerumpi hangat, tidak ada yang menghakimi suatu pendapat atau paradigma, yang ada hanyalah perbedaan opini tanpa ada pemaksaan untuk menerima, dan gaya bahasa yang santun. Ini membuat, hubungan sosial antar anggota di ngerumpi, tidak hanya sekedar teman diskusi, malahan menjadi sahabat dalam artian pertemanan yang sebenarnya. Saya belum cek politikana, apakah hubungan sosial yang terbentuk dengan gaya debat yang tajam hanya sekedar teman diskusi, ataukah juga sampai ke pertemanan? Ini menarik untuk dikaji. Definisi social networking itu adalah sampai terbentuknya pertemanan (social construct), dan bukan hanya sekedar teman diskusi (transactional).

Kelima, terjadi proses collective learning (dapat dibaca dari berbagai tulisan di ngerumpi), dan banyak pihak mendapatkan pancerahan atau perspektif pemikiran lain atas suatu masalah atau fenomena. Saya menggunakan pendekatan narrative analysis (hemeunetics) untuk menganalisis banyak tulisan di ngerumpi, dan ternyata memang proses ini terjadi (walaupun banyak juga para perusuh di sini.. hehehe). Bahkan tulisan yang muncul banyak yang saling merujuk / mereferensi. Ini menandakan terjadinya proses learning pada individu melalui interaksi sosial di ngerumpi.

Kira-kira itu ringkasan hasil kencan dengan si Mbok Venus. Terima kasih Mbok karena sudah mau menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, bahkan sampai merasa ditanya pansus atau diinterogasi hahahaha … tapi kan dalam suasana santai, ya nggak ?

Oh ya, terima kasih juga untuk buku BCBC-nya ya Mbok …

Salam
Riri Satria

9 responses

  1. tulisan yang menarik pak. dari pengalaman saya bergabung dengan beberapa komunitas fotografi, komunitas memiliki icon (fotografer senior yang bisa dijadikan panutan) dan memiliki aktfitas offline (semacam gathering) secara berkala cenderung lebih cepat berkembang. menurut saya hal tersebut dipengaruhi juga oleh faktor anggota yang bergabung dengan komunitas-komunitas tersebut sebagian besar memiliki motivasi yang sama yaitu untuk belajar/mendalami ilmu fotografinya.

  2. .. dan pada tahun 2012 pun ngerumpi.com resmi ditutup😦

  3. […] fasilitas lain seperti facebook, blog konvensional, atau blog komunitas jauh lebih ampuh (lihat studi kasus ngerumpi.com di sini). Bahkan Twitter juga sering dipergunakan sebagai alat menyebarkan kabar mengenai apa yang ditulis […]

    1. terima kasih atas kunjungannya ..

  4. Linknya tiba2 nongol di blog saya, membawa saya ke posting ini. It’s an honor to read this beautiful post about ngerumpi dan BFL mas riri. makasih banyak.
    Semoga akan makin banyak org yang tergerak untuk bergabung dengan BFL, dan menjadikan setiap tetes darah mereka berarti bagi orang banyak.

    Demikian juga ngerumpi.com, semoga semakin menginspirasi banyak orang, tidak saja dari sisi perempuan, tapi juga dari sudut pandang pria. Dalam kehidupan pria, pati gak lepas juga dari wanita bukan?

    Share your thought… mari ngerumpi, dengan hati🙂

    1. saya sangat menaruh hormat kepada BFL, bahkan ada beberapa paragraf yang membahas BFL di dalam draft disertasi S3 saya ..

      eh, kapan-kapan boleh ya saya ngobrol sama Mbak Silly mengenai hal ini, ya tentang BFL, ngerumpi, dan dunia internet pada umumnya …

      keep on good work, Mbak Silly … terima kasih

  5. bgitu y.,
    coba k tkp jj.. .

    1. silakan menuju TKP … enjoy the ngerumpi community ya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s