PENGALAMAN MENGAJAR YANG LAIN

Kalau dalam urusan membawakan workshop atau mengajar di kelas para eksekutif, saya nyaris tidak banyak menemui masalah, alias lancar-lancar saja. Hampir semua karir mengajar saya dihabiskan di kelas S2, terutama kelas eksekutif. Saya nyaris tidak pernah mengajar di kelas S1, kecuali sewaktu menjadi asisten dosen sewaktu kuliah di Fakultas Ilmu Komputer UI dulu.

Nah, beberapa waktu yang lalu, saya mengalami kesulitan. Ceritanya begini. Saya diundang oleh STIKS Tarakanita untuk memberikan semacam pembekalan dalam bentuk kuliah umum kepada para mahasiswi (ya, semua mahasiswi, tidak ada mahasiswanya) yang akan melaksanakan praktek kerja. Mereka adalah para mahasiswi program D3 Sekretaris yang sudah menyelesaikan studi dan akan melaksanakan praktek kerja untuk syarat kelulusan.

Buat saya, ini suatu tantangan. Mengapa? Pertama adalah reputasi sekolah Tarakanita sebagai sebuah sekolah sekretaris yang termasuk unggul di Indonesia. Saya ingin tahu betul seperti apa persisnya sekolah itu. Kedua, saya belum pernah mengajar kelas tingkat D3 apalagi di depan 300 orang mahasiswi, ya perempuan semua. Nah, itu tantangannya. Apakah saya akan berhasil seperti saat mengajar kelas S2 atau eksekutif?

Ternyata memang saya menemui kesulitan. Rupanya tidak mudah menguasai 300 orang mahasiswi di dalam sebuah aula untuk mau mendengarkan kita ngasih kuliah selama 2 jam! Kelihatannya saya belum menemukan metode yang tepat untuk kondisi ini. Apakah mungkin topik yang dibawakan (tentang Self-Leadership)? atau mungkin metode yang saya pergunakan? Nggak tahu juga.

Satu hal, yang jelas, memang saya harus belajar lagi untuk mengajar pada suasana seperti ini … Memang, pengalaman adalah guru yang terbaik, dan dengan mengalami sendiri, kita akan terpicu untuk belajar lebih baik lagi … Lain kelas, lain kebiasaan, lain peserta, lain pula metodenya …

Salam
Riri Satria

(Foto di atas adalah sewaktu saya menerima kenang-kenangan dari Ketua STIKS Tarakanita, Sr. Yustiana Wiwiek Iswanti CB, M.Pd.)

6 responses

  1. Wah… saya kalau ngajar di depan umum belum tentu bisa tuh. Kalau ngajar paling2 ngajarin privat, itu aja dulu banget waktu masih mahasiswa…. waktu liburan semester. Daripada bengong mendingan ngajar sekaligus dapet uang saku. Hehehe….

    Btw… bang Riri kok blognya banyak banget sih?? Saya satu aja udah running out of gas ….:mrgreen:

    1. hahaha .. memang mengajar itu merupakan seni tersendiri Kang … tahu teorinya gak cukup, dan berdiri di depan kelas itu memang membutuhkan rasa percaya diri …

      Oh ya, soon, this will be my main blog, Kang … sering-sering mampir ya🙂

  2. Kesalahannya barangkali, lupa kasih kuis berhadiah coklat🙂

    1. naaahhh betul .. kayaknya begitu say .. tapi di aula itu ada 300 orang lho … gimana mau menerapkan metode interaktif kayak gitu?

  3. Makanya untuk soal yang satu itu belajar ame ane bozz …

    1. iya lah Mr Chairman … kelihatannya harus begitu … hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s