Tag Archives: social media

MEDIA SOSIAL DAN ORGANISASI HIPERSOSIAL

cover swa

(Tulisan ini dimuat di Majalah SWA 08/XXIX/11-24 April 2013 halaman 84).

Setahun terakhir ini, ketika akan melintasi jalanan di Jakarta, saya selalu membuka Twitter dan mencari informasi lalu-lintas melalui tweet Traffic Management Center (TMC) Polri. Saya sangat terbantu TMC Polri di Twitter karena proses berbagi informasi antara pengguna lalu-lintas bisa berlangsung cepat. Demikian pula saat ingin mencari informasi mengenai produk tertentu. Saya pasti akan mencarinya di Google.

Fenomena apakah ini? Saat ini berkembang teori organisasi hipersosial (hypersocial organization) yang dipopulerkan oleh Francois Gossieaux dan Ed Moran dalam buku mereka, Hypersocial Organization: Eclipse Your Competition by Leveraging Social Media (2010). Teori ini mengungkapkan bahwa ada empat perubahan paradigma pemasaran akibat munculnya media sosial. Apa saja?

IMG_6733Pertama, dari segmen pasar menjadi komunitas (from market segmen to tribes). Pola pikir perusahaan berpindah dari fokus pada segmen pasar menjadi fokus pada komunitas atau tribes yaitu komunitas online yang terbentuk dan berinteraksi melalui media sosial. Gossieaux dan Moran berpendapat teori segmentasi pasar klasik dibangun berdasarkan karakteristik individu, bukan karakteristik perilaku sosialnya. Karakteristik individu tidak bisa memberikan informasi yang cukup kepada perusahaan tentang bagaimana manusia melakukan pertimbangan dalam membuat keputusan untuk membeli barang/jasa.

Perubahan kedua adalah dari orientasi perusahaan menjadi orientasi manusia (from company-centricity to human centricity). Paradigma lama yang menganggap pelanggan adalah sekedar pembeli harus segera dihentikan. Fokus perusahaan beralih dari orientasi mengedepankan kepentingan perusahaan menjadi orientasi manusia yang menganggap pelanggan sebagai manusia dengan segala kebutuhannya.

Perubahan ketiga adalah dari jalur komunikasi menjadi jejaring pengetahuan (from information channels to knowledge network). Perusahaan dapat membanjiri konsumen dengan informasi tentang suatu produk/layanan dan memulai sebuah proses negosiasi dengan calon pelanggan karena mereka belum terhubung satu sama lain secara luas. Namun semenjak media sosial marak, hal ini tidak dapat dilakukan lagi. Melalui media sosial, masing-masing orang dapat terhubung dalam suatu komunitas secara online. Maka, paradigma mengelola jalur komunikasi mulai bergeser menjadi pengelolaan jejaring pengetahuan yang telah terbentuk melalui media sosial.

Terakhir adalah perubahan dari proses dan hirarki terstruktur menjadi ketidakteraturan sosial (from process and hierarchy to social messiness). Komunitas yang terbentuk dengan memanfaatkan media sosial tidak hanya berisi orang atau kelompok orang yang menyukai produk/layanan suatu perusahaan, melainkan juga dapat berisi orang atau kelompok orang yang memberikan dampak negatif terhadap suatu perusahaan.

Gossieaux dan Moran juga mengungkapkan bahwa perkembangan media sosial beberapa waktu belakangan ini telah mampu merubah cara menciptakan dan mendistribusikan konten branded serta mendapatkan perhatian calon pelanggan, kemudian menjual produk/jasa kepada pelanggan tersebut.

Sebuah survey dari Deloitte’s 2009 States of the Media Democracy membuktikan bahwa 63% konsumen di Amerika Serikat mengetahui produk baru untuk pertama kalinya secara online, dimana 51% diantaranya menyatakan bahwa mereka membeli produk karena online review. Studi lain dari McKinsey membuktikan bahwa lebih dari 50% konsumen elektronik di Amerika saat ini sangat bergantung pada riset web-based untuk memilih suatu brand dibandingkan dengan mengikuti saran dari staf penjualan ketika memilih produk dalam sebuah toko.

Harvard Business Review pada tahun 2011 memaparkan studi mengenai strategi media sosial yang komprehensif. Kesimpulannya terdapat empat strategi penggunaan media sosial, yaitu predictive practitioners, creative experiementer, social media champion, serta social media transformer.

Predictive practitioners adalah strategi penggunaan media sosial yang hanya berfokus kepada satu area spesifik di dalam organisasi, misalnya hanya pelayanan pelanggan. Lalu creative experimenter adalah strategi penggunaan media sosial yang bertujuan untuk mengatasi ketidakpastian dalam rangka untuk memperbaiki proses tertentu di dalam organisasi.

Sementara itu social media champion adalah strategi menggunakan media sosial yang sudah terintegrasi dan diatur melalui kebijakan yang jelas pada tingkat organisasi atau perusahaan. Adapun social media transformer adalah strategi penggunaan media sosial yang dilakukan secara ekstensif dengan melibat berbagai pemangku kepentingan baik internal maupun eksternal, serta secara intensif dengan membentuk suatu unit tertentu yang menjadi motor dan pengendali penggunaan media sosial untuk kepentingan organisasi.

TMC Polri adalah suatu contoh organisasi hipersosial yang sudah menerapkan human centricity yang digagas oleh Gossieux dan Moran dengan menggunakan media sosial walaupun masih pada tahap predictive practitioners. Dengan mewujudkan kondisi organisasi seperti ini, maka TMC Polri banyak mendapatkan simpati dan pujian dari masyarakat, dan akhirnya menjadi salah satu ikon Polri untuk memperbaiki citranya. Demikian pula dengan para pelaku dunia bisnis. Mereka membentuk komunitas digital untuk kepentingan perusahaannya dan menerapkan konsep organisasi hipersosial. Tentu ini adalah perkembangan terbaru dalam teori organisasi, bukanlah hanya tren sesaat.

KULIAH TENTANG E-ENVIRONMENT

Tadi (13 No 2012) saya mengisi kuliah tentang e-Environment pada program Magister Manajemen Sekolah Tinggi Manajemen PPM. Sesi kuliah ini memberikan wawasan dan pemahaman kepada mahasiswa bagaimana lingkungan bisnis mengalami perubahan seiring dengan dunia memasuki era digital economy / network economy / knowledge economy yang disebut juga oleh Alvin Toffler sebagai post-industrial society atau dikenal dengan istilah the third wave.

Sebagian besar dari materi kuliah tersebut sudah pernah saya ulas pada blog ini, antara lain hypersocial organization, the long tail, groundswell and open leadership, social capital, serta bahan yang saya presentasikan pada Indonesian Knowledge Forum 2012 (lihat di sini).

Kuliah ini akan dilanjutkan nanti dengan topik tentang e-Strategy

LAGI .. SOCIAL MEDIA DAN CITIZEN JOURNALISM

Mungkin Letkol. Robert Simanjuntak lagi sial, karena tindakan kekerasan yang dia lakukan ternyata terekam oleh seorang warga dan mengirimkan hasil rekaman tersebut ke social media. Dalam waktu cepat, foto dan video tindakan yang dilakukan perwira menengah TNI-AU di Riau itu tersebat ke seluruh dunia.

Letkol. Robert Simanjuntak melakukan tindakan kekerasan itu terhadap wartawan yang kebetulan meliput jatuhnya pesawat tempur TNI-AU jenis Hawk di Riau beberapa hari yang lalu. Apapun latar belakang dan alasannya, yang pasti beliau memang tidak beruntung, terekam warga dan ditayangkan ke penjuru dunia melalui media yang namanya internet.

Efeknya bisa diduga, hal ini memancing banyak komentar, dan tentu saja yag terbanyak adalah kekesalan masyarakat, dan bahkan para aliansi wartawan pun menuntut TNI-AU untuk memberikan tindakan kepada yang bersangkutan (lihat di sini). Akhirnya, para petinggi TNI-AU pun tidak bisa berkelit dan akhirnya mengeluarkan pernyataan permohonan maaf kepada masyarakat, terutama pihak-pihak yang dirugikan.

Inilah dahsyatnya social media. Saya yakin, Letkol Robert tidak pernah berpikir bahwa apa yang dia lakukan akan menciptakan geger nasional, bahkan berpotensi mengalahkan pamor berita tentang jatuhnya pesawat tempur TNI-AU itu sendiri. Tempat dia melaukan tindakan kekerasan itu mungkin jauh dari keramaian, tetapi di zaman internet ini, konsep citizen journalism memang jangan dianggap remeh. Sesuatu yang terjadi di wilayah terpencil sekalipun, selama warga bisa mengakses internet di sana, maka berpotensi untuk dapat diketahui orang di seluruh penjuru dunia.

Citizen journalism adalah suatu aktivitas masyarakat yang berkembang akhir-akhir ini secara spontan dan tanpa diatur, di mana setiap anggota masyarakat bisa melakukan aktivitas bagaikan wartawan dengan meliput kejadian dan menayangkannya melalui social media di internet seperti Twitter, Facebook, YouTube, dan sebagainya.

Mungkin banyak aparat TNI lainnya yang melakukan tindakan kekerasan, tapi Letkol. Robert, barangkali lagi sial, terliput oleh warga yang paham dengan citizen journalism.

Perkembangan social media dan citizen journalism memberikan perkembangan baru terhadap kehidupan bermasyarakat dan bernegara, di mana terjadi saling kontrol antar sesama anggota masyarakat, masyarakat dengan pemerintah / aparat penegak hukum, serta masyarakat dengan pelaku bisnis / usaha. Informasi demikian mudah menyebar ke berbagai penjuru dunia, dan berbagai opini pun akan terbentuk di masyarakat untuk menyikapi suatu kejadian. Kasus pembelaan masyarakat terhadap KPK beberapa waktu yang lalu juga disebabkan oleh social media dan citizen journalism-nya.
Continue reading →

SOCIAL MEDIA, SOCIAL CAPITAL, SOCIAL-PRENEUR, SOCIAL MOVEMENT

Tadi siang (13/10/2012) saya menghadiri Indonesia Social Media Festival (SocMedFest) 2012 di Senayan, Jakarta. Ini adalah Social Media Festival yang kedua dilaksanakan secara besar-besaran di Jakarta, di mana yang pertama dilaksanakan pada tahun 2011 yang lalu. Acara ini diikuti oleh para pelaku yang berkaitan dengan social media, baik yang berbentuk perusahaan ataupun gerakan komunitas di masyarakat yang dikenal dengan istilah social-preneur.

Saya menemukan banyak sekali social-preneur pada acara Indonesia Social Media Festival 2012 kali ini. Contoh pertama adalah Blood for Life (BFL) yang digagas oleh sahabat saya Valencia “Silly” (@justsilly)dan kawan-kawan yang merupakan sebuah social movement. Saya beberapa kali menjadikan BFL sebagai contoh kasus di kelas kuliah yang saya asuh (mengenai network economy) bagaimana social media sudah menjadi suatu wahana atau katalis yang mampu menggerakkan potensi masyarakat yang mungkin selama ini terpendam sehingga secara kolektif mampu berbuat sesuatu untuk sesama masyarakat (community movements for the community).

Sepengetahuan saya, BFL lahir karena spontanitas beberapa orang yang terdorong ingin melakukan sesuatu untuk sesama terutama berkaitan dengan donor darah untuk mereka yang membutuhkan. BFL menghimpun para pendonor sukarela yang terkoneksi melalui media sosial dan siapapun bisa menjadi pendonor asalkan memenuhi syarat medis. Jika anda membutuhkan bantuan transfusi darah maka anda dapat mengontak BFL dan dalam hitungan menit kebutuhan anda akan tersebar di kalangan anggota BFL. Lalu akan ada anggota BFL yang lokasinya dekat dengan anda yang akan mengontak anda untuk tindaklanjut. BFL lahir dari spontanitas masyarakat, tanpa ada “pembinaan” dari pemerintah seperti halnya gaya birokrasi. Social media memungkinkan semua itu terjadi dan BFL sudah membuktikannya. Community movements for the community. Salut untuk kawan-kawan penggagas serta anggota BFL semua.

Contoh kedua, saya ketemu dan ngobrol dengan Usman Hamid, Campaign Director Indonesia – Change.org. Mereka memberdayakan masyarakat untuk ikut serta dalam partisipasi publik berkaitan dengan hal-hal kebijakan pemerintah dan bahkan politik yang dijalankan oleh pemerintah, mulai dari hal yang kecil-kecil, sampai dengan yang skala nasional, bahkan internasional. Untuk skala nasional, gerakan mereka yang teranyar adalah #saveKPK, yaitu suatu bentuk dukungan moral kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk tetap bernyali dalam melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia walau mengalami tekanan-tekanan, bahkan upaya-upaya pelemahan dari berbagai pihak.
Continue reading →

PENGALAMAN DI INDONESIA KNOWLEDGE FORUM 2012

Jum’at pagi (28 September 2012), pukul 7:10 pagi saya sudah sampai di Ritz Carlton / Pacific Palace di kawasan Sudirman Central Business District (SCBD). Mall Pacific Palace masih tutup, tetapi kendaraan sudah ramai lalu-lalang di kawasan itu.

Pagi ini adalah sesi saya pada acara hari kedua Indonesia Knowledge Forum 2012 yang dilaksanakan di Ballroom Ritz Carlton. Acara sebenarnya dimulai pada pukul 08:30, tetapi saya tidak mau mengambil risiko telat sampai ke kawasan ini, mengingat macetnya lalu lintas menuju Jakarta di jalan tol Jagorawi dari Cibubur pada hari Jum’at pagi. Tetapi ternyata saya malah terlalu pagi sampai di sini. Tak apa-apa lah, ada kesempatan untuk sarapan dan menikmati kopi hangat dulu di sebuah cafe di lantai dasar mall yang kebetulan sudah buka. Apalagi ditemanin isteri, lumayanlah kencan pagi dulu :-)

Sekitar jam 8:10 saya sudah memasuki ruangan acara di Ritz Carlton. Sejumlah panitia dengan ramah dan sangat helpful menyambut saya untuk mempersiapkan peralatan presentasi. Tetapi ruangan masih kosong. Oh ya, pagi itu ada enam sesi paralel, yaitu Emirsyah Sattar (CEO Garuda Indonesia) di sesi ekonomi, lalu I Ketut Mardjana (Dirut Pos Indonesia) di sesi leadership, Danny Pramono (CEO Sour Sally) di sesi kreativitas dan inovasi, Eddy Wiriadinata (Direktur Acceleration Learning), Wahyu Saidi (Senior Consultant Primasi) di sesi manajemen SDM, dan tentu saja saya di sesi teknologi informasi. Mengingat ada nama besar Emirsyah Sattar di sana, maka saya menduga peserta akan membludak di sesi Pak Emir, dan lima sesi lainnya tidak akan begitu ramai (belakangan saya tahu Pak Emir tidak bisa hadir dan diwakili oleh salah seorang VP Garuda Indonesia). Continue reading →

NETWORK ECONOMY AND THE IMPACT TO BUSINESS MODEL

Beberapa slide utama bahan presentasi saya pada acara Indonesia Knowledge Forum 2012 .. Selamat membaca, semoga bermanfaat.


Continue reading →

HYPERSOCIAL ORGANIZATION

Buku yang ditulis oleh Gossieaux and Moran pada tahun 2010 yang lalu mengungkapkan teori hyper-social organization yaitu menyimpulkan bahwa ada 4 (empat) perubahan paradigma pemasaran akibat munculnya social media yaitu:

1. From market segmen to tribes
Pola pikir perusahaan harus segera berpindah dari fokus pada segmen pasar menjadi fokus pada tribes (komunitas online yang terbentuk dan melakukan interaksi melalui social media). Gossieaux and Moran berpendapat bahwa segmentasi pasar klasik dibentuk berdasarkan karakteristik individu dari manusia (demografi), bukan berdasarkan pada karakteristik perilaku sosialnya (behavior). Sedangkan karakteristik individu manusia tidak bisa memberikan informasi yang cukup pada perusahaan tentang bagaimana manusia tersebut melakukan interaksi sosialnya, termasuk pertimbangan dalam membuat keputusan untuk membeli.

2. From company-centricity to human centricity
Paradigma lama yang menganggap pelanggan adalah pelanggan harus segera dihentikan. Pada dasarnya, pelanggan adalah manusia yang memiliki berbagai macam kebutuhan, seperti teori Maslow yang memaparkan bahwa manusia pada dasarnya memiliki 3 (tiga) jenis kebutuhan, yaitu kebutuhan untuk hidup, kebutuhan kasih sayang serta kebutuhan penghargaan. Dengan demikian, fokus perusahaan harus mulai beralih dari company-centricity yang lebih mengedepankan kepentingan perusahaan dan menganggap pelanggan sebagai konsumen perusahaan, menjadi human-centricity yang menganggap pelanggan sebagai manusia dengan segala kebutuhannya. Gossieaux and Moran menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan hyper-social yang telah berpindah dari company-centricity ke human centricity menambahkan customer-centricity kedalam value proposition mereka.

3. From information channels to knowledge network
Beberapa tahun yang lalu saat social media belum muncul, information channel menjadi salah satu faktor penting dalam pemasaran produk atau jasa suatu perusahaan. Perusahaan dapat membanjiri konsumen dengan informasi maupun pesan tentang suatu produk atau layanan karena para konsumen mereka belum terhubung satu sama lain secara luas. Pada masa ini, informasi tentang produk dan layanan berjalan bersama dengan produk atau layanan itu sendiri. Namun semenjak social media muncul, hal ini tidak dapat dilakukan lagi. Melalui social media, dimana masing-masing orang dapat terhubung dalam suatu komunitas secara online, perusahaan tidak dapat mengetahui ketika pelanggan, calon pelanggan potensial, atau bahkan detractor (pencela yang tidak menyuka produk atau layanan perusahaan) terhubung pada suatu komunitas yang sama dan saling berbagi pengalaman tentang produk dan layanan perusahaan tersebut. Dengan kata lain, perusahaan tidak dapat mengendalikan tribes yang terbentuk dalam dunia maya. Oleh karena itu, paradigma mengelola information channels harus mulai bergeser menjadi pengelolaan knowledge network dengan mencari dan mendapatkan pengetahuan tentang jaringan diantara tribes yang telah terbentuk melalui social media.
Continue reading →

SOCIAL MEDIA DAN SAYA

Definisi social media menurut Wikipedia :

Social media are media for social interaction, using highly accessible and scalable communication techniques. Social media is the use of web-based and mobile technologies to turn communication into interactive dialogue …. a group of Internet-based applications that build on the ideological and technological foundations of Web 2.0, which allows the creation and exchange of user-generated content.

Social media yang pertama kali saya gunakan adalah aplikasi untuk blogging, yaitu WordPress, serta Friendster. Waktu itu (tahun 2006) WordPress dan Friendster masih versi awal dan fitur yang tersedia pun sangat sedikit. Pilihan tema untuk tampilan WordPress pun sangat terbatas.

Aktivitas blogging pun terasa menyenangkan walaupun fiturnya tidak banyak. Dalam perjalanannya, ternyata Friendster pun membuka fitur blog, yang rupanya menggunakan platform WordPress. Mengapa saya menggunakan WordPress? Alasannya sederhana, karena memakainya mudah, dan saya merasa WordPress lebih user-friendly daripada Blogger. Lalu untuk chatting, saya memilih Yahoo! Messenger, yang juga saya pergunakan sampai sekarang dengan account ririsatria_ym.

Pada tahun 2008 saya juga menggunakan Facebook dan Twitter dan tak lama kemudian, muncul Linked-In. Rupanya saya lebih jatuh cinta kepada Facebook sehingga saya mulai mengabaikan Friendster. Facebook memiliki fitur yang lebih banyak daripada Friendster, sekaligus lebih user-friendly. Tetapi menurut saya, Friendster lebih menjaga privacy ketimbang Facebook (belakangan baru Facebook meningkatkan fasilitas untuk menjaga privacy tersebut). Continue reading →

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.368 pengikut lainnya.