101 TAHUN AJB BUMIPUTERA 1912

copy-of-logo-ajb-bpSaya bukanlah karyawan di AJB Bumiputera 1912, hanya saja ada beberapa fase dalam karir saya bersentuhan dengan perusahaan asuransi tertua di Indonesia ini.

Nah, tulisan ini dibuat menyambut 101 tahun usia AJB Bumiputera 1912, sebuah perusahaan asuransi tertua di Indonesia. Tulisan ini saya dekasikan untuk semua sahabat Bumiputerawan di manapun berada, teriring harapan AJB Bumiputera 1912 selalu melakukan continuous improvements waktu demi waktu sehingga mencapai high-performance organization.

Dalam beberapa kesempatan, saya sering menyampaikan bahwa AJB Bumiputera 1912 ini adalah salah satu contoh perusahaan “built to last” di Indonesia. Teori “build to last” diungkapkan oleh Jim Collins dan Jerry Poras pada buku mereka yang berjudul “Built to Last: Successful Habits of Visionary Companies“, diterbitkan tahun 1994, dan sempat menjadi salah satu buku manajemen yang populer dan diperbincangkan di kalangan akademisi dan praktisi. Ulasan singkat mengenai hal ini bisa dilihat pada tulisan saya di sini.

Apakah itu teori “built to last“? Jim Collins dan Jerry Poras berupaya untuk mempelajari perusahaan-perusahaan yang berusia puluhan tahun, sudah berganti generasi yang mengawaki perusahaan itu, berhasil melewati berbagai “ujian” dalam perjalanannya, bisnisnya masih bertumbuh, dan menjadi pemain yang disegani di industrinya. Saya memang tidak terlalu paham kondisi internal AJB Bumiputera 1912, tetapi jika kita amati dari luar maka AJB Bumiputera 1912 memenuhi sebagian besar kondisi “built to last” tersebut. Tetapi apakah AJB Bumiputera 1912 memenuhi semua unsur dalam teori “built to last“? Nah, ini masih sebuah pertanyaan besar yang perlu penelitian lebih lanjut.

AJB Bumiputera 1912 sudah mengalami ujian yang berat, termasuk lolos dari krisis ekonomi di kurun waktu 1997-1999, walaupun banyak pengamat yang mengatakan bahwa upaya untuk lolos itu menyisakan pekerjaan rumah sampai saat ini. Tetapi tetap harus diakui, perusahaan ini sukses melewati ujian tersebut. Saya pernah ngobrol dengan seorang Bumiputerawan yang berada di jajaran pimpinan saat krisis ekonomi itu terjadi, dan beliau menyampaikan bahwa penyelamatan dilakukan dengan upaya yang sangat berat, berdarah-darah, apalagi dengan status perusahaan yang bersifat mutual dan tidak ada pemodal yang akan menyuntikkan dana segar, dan akhirnya sisa-sisa luka itu masih ada sampai saat ini walaupun situasi semakin membaik tahun demi tahun.

Nah, bagaimana dengan tantangan ke depan? Industri asuransi tumbuh pesat di Indonesia dan para pemain pun mulai banyak. Pasar yang dulu yang benar-benar “blue ocean” perlahan-lahan mulai berubah menjadi “red ocean” walaupun masih pada fase awal (meminjam istilah Kim Chan dan Renee Mauborgne dalam teori “blue ocean strategy“).

Menurut saya, saat ini AJB Bumiputera 1912 dihadapkan kepada tiga tantangan atau “ujian” utama, yaitu berkaitan dengan pangsa pasar (market share), strategi bisnis dan keunggulan kompetitif, serta tata kelola perusahaan (corporate governance).

Berkaitan dengan pangsa pasar, maka AJB Bumiputera 1912 mengalami penurunan yang sangat signifikan. Beberapa data yang bisa diperoleh dari berbagai media ekonomi menunjukkan bahwa perusahaan ini pernah memiliki pangsa pasar lebih dari 50% untuk bisnis asuransi di Indonesia. Mungkin itulah masa-masa kejayaan AJB Bumiputera 1912. Saat itu perusahaan asuransi asing memang belum banyak beroperasi di Indonesia. Tetapi saat ini, diperkirkan pangsa pasar AJB Bumiputera 1912 sekitar 10% (data tahun 2011, saya belum punya data yang paling mutakhir).

Jumlah pemegang polis perusahaan ini sangat besar, tetapi pangsa pasar diukur dengan nilai rupiah. Ini berarti perusahaan ini memang sangat exist di pasar bawah, dengan nilai polis yang relatif kecil, tetapi tidak begitu sukses di pasar menegah atas. AJB Bumiputera 1912 sudah beberapa kali mendapatkan penghargaan yang berkaitan dengan brand awareness, tetapi mengalami penurunan pangsa pasar, lalu apakah artinya ini? Salah satu kemungkinan penafsirannya adalah, orang kenal dengan kita, tetapi tidak mau bertransaksi dengan kita.

Tantangan berikut adalah berkaitan dengan strategi bisnis dan keunggulan kompetitif. Sebagai pengamat dari luar, saya memang bingung jika ingin memahami apakah sesungguhnya keunggulan kompetitif dari perusahaan ini yang membedakan dia dari kompetitornya. Apakah customer value proposition yang ditawarkan? Ini menjadi pertanyaan yang menarik. Apakah berupa layanan (service) dan kemitraan (partnership)? Mungkin saja, tetapi tentu saja sebuah customer value proposition harus sejalan dengan customer expectation dari target pasar yang dituju. Menurut saya, AJB Bumiputera 1912 masih punya pe-er untuk hal ini.

Tantangan ketiga adalah tata kelola perusahaan. Sebagai sebuah perusahaan mutual, tentu AJB Bumiputera 1912 tidak tunduk kepada undang-undang yang mengatur perusahaan dalam bentuk perseroan terbatas. Celakanya, negara Indonesia belum memiliki suatu undang-undang yang mengatur perusahaan dalam bentuk mutual dengan jelas. Dengan kondisi mutual ini, maka yang dianggap sebagai pemilik perusahaan adalah semua pemegang polis yang diwakilkan kepada sekelompok orang yang duduk dalam Badan Pemegang Polis (BPA). BPA inilah yang punya kewenangan untuk memilih pimpinan perusahaan. Jika dimanajemeni dengan baik, maka situasi ini justru akan menguntungkan perusahaan karena mampu menerapkan prinsip democratic company yang sekarang mulai banyak dibahas di dunia. Tetapi jika terjadi mismanajemen maka bisa-bisa kondisinya seperti sebuah partai politik.

Terakhir, saya tentu berharap para sahabat Bumiputerawan yang mengawaki AJB Bumiputera 1912 tidak terjebak dalam situasi nyaman. Jim Collins juga mengingatkan perusahaan-perusahaan besar dan sudah mapan (seperti AJB Bumiputera 1912) agar mewaspadai situasi jebakan “hubris born of success“. Riset yang dilakukan oleh Jim Collins ternyata menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan besar di dunia yang diperkirakan banyak orang tidak akan kolaps, ternyata juga bisa kolaps.

Inilah peringatan yang diberikan Jim Collins dalam bukunya “How the Mighty Fall” (silakan lihat di sini). Siapa yang menduga bahwa Lehmann Brothers yang perkasa di industri keuangan dunia akan rontok dan kolaps? Siapa yang menduga perusahaan konsultan kelas dunia Arthur Andersen juga mengalami kejatuhan yang menyakitkan dan akhirnya tutup? Inilah yang diingatkan oleh Jim Collins.

Untuk itu, tidak ada salahnya para sahabat Bumiputerawan yang mengawaki AJB Bumiputera 1912 mulai melirik dua buku Jim Collins yang lain, yaitu “Good to Great” dan “Great by Choice“. “Good to great” menguraikan bagaimana perusahaan-perusahaan besar di dunia tidak segan-segan melakukan transformasi secara fundamental dan menyeluruh untuk mencapai kejayaan. Mereka tidak mau terjebak dalam situasi baik (good), melainkan terus berupaya untuk menjadi hebat (great) sehingga terus-menerus berjaya dalam bisnisnya. Sementara itu, “great by choice” bisa dipedomani sebagau suatu prinsip kepemimpinan yang sanggup melakukan transformasi perusahaan “good to great“, tetap bertahan pada kondisi “built to last“, dan menghindari jebakan “mighty fall“.

Selamat Ulang Tahun AJB Bumiputera 1912, semoga tetap memberikan manfaat kepada masyarakat Indonesia melalui dunia perasuransian, tetap menjadi perusahaan “built to last“, dan terhindar dari ancaman “mighty fall“.

Salam sukses selalu.
Riri

About these ads

2 responses

  1. […] NB : tulisan saya mengenai AJB Bumiputera 1912 dapat dibaca di sini. […]

  2. Amazing editorial

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.550 pengikut lainnya.