TRIBUTE TO SEMPATI AIR

Tulisan ini hanyalah semacam tulisan nostalgia, hanya tulisan untuk mengenang masa lalu yaitu sepotong sejarah yang hadir dalam hidup saya yang tidak lama, hanya kurang dari 2 tahun yaitu pada kurun 1995 – 1996. Tetapi pada kurun waktu yang tidak lama itu, banyak hal yang saya alami dan pelajari, dan boleh dikatakan sebagai salah satu titik sejarah penting dalam hidup saya, baik yang berkaitan dengan profesi sebagai konsultan, pertemanan dan gaya hidup, sampai dengan pengembangan wawasan di berbagai wilayah di Indonesia. Itulah suatu masa yang pernah hadir dalam hidup saya, yaitu masa “bergaul” dengan Sempati Air, sebuah maskapai penerbangan yang pernah besar dan menjadi ikon di Indonesia, tetapi berakhir dengan tragis.

Saya memang tidak pernah menjadi karyawan di Sempati Air. Tetapi rupanya perjalanan hidup membawa saya bersentuhan dengan perusahaan penerbangan ini. Saat itu saya adalah staf konsultan pada kantor konsultan KPMG (Klynvelt Peat Marwick Goerdeler) di Indonesia dan saya tergabung ke dalam tim konsultan yang ditugaskan menangani Sempati Air. Walaupun demikian, ternyata pada masa yang singkat itu, saya mendapatkan banyak hal berkaitan dengan wawasan manajemen, melihat berbagai wilayah di Indonesia, pertemanan dan gaya hidup, dan tentu saja pemahaman mengenai bisnis penerbangan. (Inilah foto tim konsultan khusus implementasi SCALA saat itu).

Tulisan ini tidaklah bermaksud menganalisis perusahaan Sempati Air. Jujur saja, dengan posisi sebagai konsultan sistem informasi dan akuntansi Sempati Air saat itu, sedikit banyaknya saya tahu bagaimana kondisi keuangan maskapai penerbangan ini serta berbagai gosip di balik angka-angka tersebut, termasuk berbagai praktik manajemen lainnya di Sempati Air. Tetapi pada tulisan ini, saya tidak akan membahas hal-hal tersebut.

SEKILAS TENTANG SEMPATI AIR

Baiklah, rasanya tidak afdol untuk berkisah tentang suasana yang saya alami saat itu tanpa memperkenalkan maskapai perusahaan ini. Untuk itu, informasi seputar Sempati Air saya cuplik dari Wikipedia :

Sempati Air adalah sebuah maskapai penerbangan di Indonesia. Maskapai penerbangan milik sahabat dan keluarga Soeharto (mantan Presiden Indonesia) ini berhenti beroperasi sejak 5 Juni 1998. Kode IATAnya, SG, kini kode tersebut digunakan oleh maskapai penerbangan dari India “SpiceJet”. Sempati Air didirikan pada Desember 1968 dengan nama PT Sempati Air Transport, Sempati memulai penerbangan perdananya pada Maret 1969 menggunakan pesawat DC-3. Sempati awalnya hanya menawarkan jasa transportasi bagi karyawan perusahaan minyak, namun setelah DC-3 tambahan serta Fokker F27 dibeli, Sempati memulai penerbangan berjadwal ke Singapura, Kuala Lumpur dan Manila.


Pada pertengahan dan akhir 1980-an, armada Sempati berkembang dengan masuknya Fokker 100, Fokker 70 dan Boeing 737-200. Kemudian Airbus A300B4 juga masuk jajaran armada Sempati sehingga penerbangan ke tempat lain di Asia Tenggara dan Australia dapat dilakukan. Nama perusahaan berubah menjadi Sempati Air pada tahun 1996. Ketika krisis moneter 1998 menghantam Indonesia, Sempati Air terpaksa menjual atau mengembalikan pesawatnya, namun tetap saja pada Juni 1998 Sempati harus menghentikan operasi perusahaannya.


DITUGASKAN DI DISTRIK BALIKPAPAN

Penugasan saya di Sempati Air pertama kali adalah di Distrik Balikpapan (BPN). Begitu mendarat di Bandara Sepinggan Balikpapan, saya langsung menuju Kantor Distrik Sempati Air di Hotel Benakutai. Biasalah, pada awal penugasan tentu saya harus berkenalan dengan semua jajaran pimpinan Distrik BPN ini, yaitu Pak Budi Sasongko (Distric General Manager / DGM), Kang Helmi (Distric Sales Manager / DSL), Kang Harry Purnawan (Distric Finance Manager / DFM), serta Kang Jaja (Distric Service Manager / DSV). Perkenalan dilanjutkan dengan para staf di sana. Sorenya saya juga berkenalan dengan Chief Engineer Sempati di Balikpapan yang biasa dipanggil Om Hans, yang ternyata orang lama di Sempati Air.

Selama berada di Balikpapan, saya menginap di Hotel Benakutai, sebuah hotel bintang empat yang pertama di pulau Kalimantan. Hotel ini memang sudah tua, dan di beberapa bagian hotel ini sedang mengalami renovasi. Saat itu, saya tidak pernah membayangkan bakal sering menginap di hotel ini. Hotel ini sudah seperti rumah kedua buat saya. Mengapa tidak? dalam sebulan, saya pasti berada di BPN ini selama 2 minggu, dan 2 minggu lagi di Jakarta, dan saya ditugaskan di Balikpapan ini selama 1,5 tahun. Itulah sebabnya, saat itu saya cukup akrab dengan para karyawan Sempati Air di Balikpapan, bahkan lebih akrab dibandingkan kolega-kolega saya sesama staf konsultan di KPMG.

Oh ya, saat itu di Balikpapan ada 2 jenis taksi, yaitu taksi biasa dan taksi argo .. Nah, jangan salah paham, taksi argo itu adalah taksi sedan yang biasa kita kenal di Jakarta, sedangkan taksi biasa itu adalah angkot alias angkutan kota … hehehehe …

Tugas saya saat itu adalah mengimplementasikan sebuah enterprise software (cikal bakal ERP / Enterprise Resource Planning) dengan merek SCALA di Sempati Air, dengan station utama saya di Balikpapan (belakangan saya juga ditugaskan menangani implementasi SCALA di kantor Sempati Air di Bandara Soekarno Hatta di Jakarta, serta membantu staf konsultan lain di berbagai kantor Sempati Air lainnya jika ada masalah).

Selama di Balikpapan ini, saya banyak berkenalan dengan berbagai pihak, baik rekanan Sempati Air seperti biro perjalanan, maupun karyawan-karyawan Sempati Air lainnya seperti pilot, pramugari, dan lain-lain. Beberapa kali saya ikut kumpul-kumpul dengan para pilot dan pramugari apabila mereka stranded (pesawat bermalam) di BPN, tentu saja bersama para staf Sempati Air BPN, terutama Kang Helmi dan Kang Jaja. Sebenarnya saya lebih akrab dengan Kang Harry, tetapi pembicaraan kami lebih banyak membahas hal-hal yang berkaitan dengan manajemen perusahaan di Sempati Air. Kalau dengan Kang Helmi dan Kang Jaja banyak suasana santainya dan mengunjungi berbagai tempat nongkrong di BPN.

PERTAMA KALI KE BATAM

Ketika sedang mengerjakan tugas di Balikpapan, tiba-tiba keluar perintah dari Kantor KPMG di Jakarta kepada saya agar segera menuju Batam (BTH). Ada sedikit masalah dalam implementasi SCALA di Kantor Sempati Distrik Batam dan saya diminta untuk ikut serta menyelesaikannya, bergabung dengan tim konsultan KPMG lainnya di Batam. Nah, akhirnya saya menginjakkan kaki di pulau Batam, yaitu pada bulan September 1996. Begitu sampai di Batam, saya langsung menuju penginapan, yaitu Nagoya Hotel di wilayah Nagoya – Batam.

Saat itu Batam disebut-sebut sebagai salah satu sentra pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Lokasinya yang berdekatan dengan Singapura membawa efek bisnis yang sangat besar kepada pulau Batam. Bahkan saya kaget ketika mengetahui bahwa transaksi jual-beli di sini ternyata menggunakan standar mata uang Dollar Singapura. Walah, kok rasanya tidak seperti di Indonesia? Hal lain yang membuat saya kaget adalah operasional taksi di Batam ini. Taksi ini beroperasi ibarat angkot, bisa diisi sampai dengan 4 orang yang saling tidak kenal, tetapi tanpa trayek yang jelas … hahahaha .. kaget juga begitu lagi santai di dalam taksi, tiba-tiba ada orang naik dan duduk di sebelah kita …

Mitra kerja saja di Sempati Air BTH adalah James Macawalang (Distric Finance Manager / DFM, sama dengan jabatan Kang Harry di BPN). Akhirnya dengan kerja sama yang baik antara pihak Sempati Air dipimpin James dengan pihak konsultan KPMG, maka persoalan di BTH bisa diselesaikan dengan baik.

Ada satu lagi yang membuat saya kaget, ternyata salah satu karyawan Sempati Air di BTH adalah famili jauh saya, dan ini adalah pertemuan yang mengejutkan. Akhirnya melalui dia, saya bisa menemui keluarga lainnya yang juga masih famili dengan saya di Batam ini, dan mereka lah yang akhirnya mengajak saya jalan-jalan di Batam.

MENGUNJUNGI JAYAPURA

Lagi-lagi ketika sedang bertugas di Balikpapan, keluar perintah dari Kantor KPMG di Jakarta kepada saya untuk pergi ke Jayapura (DJJ) untuk membantu tim konsultan KPMG yang ada di sana karena ada masalah yang terjadi di sana. Perjalanan ke Jayapura memakan waktu sekitar 5 jam dari Jakarta, belum termasuk waktu transit di Ujung Pandang (UPG). Badan sudah terasa sangat letih begitu mendarat di Bandara Sentani DJJ, dan ternyata masih harus melanjutkan perjalanan yang cukup panjang menuju kota Jayapura … waduh! .. Tetapi rasa letih itu menjadi berkurang sewaktu saya disuguhi pemandangan alam yang menakjubkan sepanjang perjalanan, dan itulah pertama kali saya melihat keindahan tanah Papua, yang waktu itu masih bernama Propinsi Irian Jaya.

Sesampainya di kota Jayapura, karena badan sudah letih, maka saya memilih untuk beristirahat. Kami menginap di rumah dinas DFM Distrik DJJ yang cukup besar. Kawan-kawan tim konsultan KPMG lainnya pergi bersama-sama dengan kawan di Sempati Air DJJ untuk cari makan malam dan menikmati malam di Jayapura. Saya memilih untuk tidur karena badan sudah tidak bisa diajak kompromi.

Sekitar jam 9 malam, semuanya sudah pulang ke rumah dinas DFM DJJ dan kami ngobrol-ngobrol. Rasa letih sudah hilang dari badan saya, dan saya pun dibelikan makanan oleh mereka, dan kami pun makan sambil ngobrol. Mereka menanya saya, apakah selama tidur tadi saya baik-baik saja, mengingat saya hanya sendiri yang tinggal di rumah. Saya bilang, baik-baik saja tuh, kenapa? Akhirnya mereka cerita juga, ternyata di rumah tersebut ada penghuninya, yaitu makhluk halus yang sering menampakkan dirinya seperti noni-noni Belanda di masa lalu. Rumah itu memang rumah tua, dan dibangun di zaman Belanda dulu, tetapi masih kokoh. Beberapa teman rupanya sudah diganggu oleh “si noni Belanda” dan gesturnya ngajak kenalan … waaaaaaaa … Entahlah! Saya memang tidak diganggu saat itu. Tetapi mungkin juga dia muncul, tetapi karena saya sangat letih dan tidur nyenyak, akhirnya si “noni Belanda” itu putus asa dan akhirnya pergi … hahahaha ..

MENGUNJUNGI AMPENAN – KUPANG – DILLI

Menjelang bulan Desember 1995, hasil rapat tim konsultan KPMG memutuskan untuk menugaskan saya ke tiga kota, yaitu Ampenan (AMI) di NTB, Kupang (KOE) di NTT, serta Dilli (DIL) di TimTim, untuk bergandung dengan tim konsultan KPMG yang bertugas di kantor Sempati Air di tiga kota tersebut. Saat itu, Timor Timur masih merupakan bagian dari negara Republik Indonesia, yaitu propinsi ke-27.

Persoalan di AMI tidaklah berat, karena rupanya sistem yang dijalankan di sini sudah tergolong rapi, dan praktis saya selesai dengan cepat, tidak sampai satu hari. Oleh karena itu, saya berkesempatan mengunjungi pantai Senggigi yang saat itu masih sepi.

Besok paginya, saya terbang menuju Surabaya (SUB) untuk transit dan terbang menuju Kupang. Nah, penerbangan dari AMI menuju SUB ini menggunakan pesawat Fokker 27 dengan mesin baling-baling. Saat baru lepas landas dari AMI, tiba-tiba cuaca buruk dan banyak awan hitam. Pesawat terguncang-guncang di udara, dan tentu saja guncangannya jauh lebih hebat daripada pesawat jet. Inilah penerbangan jarak pendek yang terlama yang saya rasakan dengan penuh jantung berdebar …

Sama dengan di AMI, persoalan di KOE juga tidak berat dan bisa diselesaikan dalam waktu sehari. Tetapi masalahnya, penerbangan Sempati Air ke Dilli hanya 3x dalam seminggu, dan penerbangan berikutnya adalah lusa alias 2 hari lagi. Nah, saya jadi punya waktu untuk keliling kota Kupang dan mengamati kehidupan masyarakat di sana. Kota Kupang saat itu sangat gersang. Sepanjang perjalanan dari Bandara El-Tari menuju Kota Kupang, saya hanya melihat suasana gersang dan kering. Hal ini sangat berbeda dengan perjalanan dari Bandara Sentani menuju kota Jayapura di Irian Jaya. Apa yang menarik di Kupang? .. hehehe .. menurut saya adalah, masyarakat di sana menyebut angkot di kota itu dengan “bemo” …

Suasana kota Dilli saat itu memang agak aneh menurut saya. Mungkin karena disebabkan masih adanya konflik bersenjata antara ABRI dengan gerilya Fretilin, maka kalau malam kota ini sangat sepi, bahkan sudah sepi sejak sore. Penduduk di sini punya kebiasaan yang mirip denga kebiasaan masyarakat Latin, yaitu siesta alias tidur siang. Jadi siang hari kota Dilli itu sepi, sorenya ramai lagi, dan sore menjelang malam sepi lagi. Begitulah irama kehidupan kota Dilli saat itu. Membosankan memang. Untuk mengusir kejenuhan, maka saya dan beberapa karyawan Sempati Air di sana pergi memancing di pantai di lurk kota Dilli, tepatnya di selatan kota itu. Jujur saja, karena suasana jalan yang sangat sepi, lalu kita berada jauh di luar kota, membuat hati saya kecut juga, bagaimana kalau ada Fretilin yang datang? .. waduh … apalagi saat itu, saya sudah siap-siap mau menikah .. hehehehe

RAPAT DENGAN DIREKSI SEMPATI AIR

Pada bulan Januari 1996, tiba-tiba Ibu Julianty Lintong dan Ibu Hanny Agustine, keduanya petinggi kantor konsultan KPMG di Indonesia saat itu mengajak saya ikut rapat dengan Direksi Sempati Air. Wah, saya merasa tidak percaya saat itu, karena biasanya yang ikut rapat dengan Direksi Sempati Air hanyalah para pimpinan KPMG saja. Saat itu jabatan saya masih staf konsultan yang berusia belum 26 tahun. Saya sempat bingung, apalagi Ibu Julianty dan Ibu Hanny mengatakan bahwa saya juga harus mempresentasikan atau menjelaskan sesuatu pada rapat nanti. Hah? presentasi di depan Direksi Sempati Air? yang bener aja!

Tim KPMG yang ikut rapat saat itu adalah Ibu Julianty Lintong sebagai pimpinan tertinggi unit konsultasi manajemen KPMG di Indonesia, lalu Pak Tajuddin Ismail (Manajer Divisi TI), Pak Budi Purwadi (Manajer Divisi Akuntansi), Ibu Hanny Agustine (Project Manager untuk Sempati Air), serta saya! Saya menganggap ini adalah suatu kehormatan dan sekaligus tantangan buat saya. Rupanya saya diminta untuk mempresentasikan suatu analisis yang pernah saya buat (tanpa diminta oleh pimpinan KPMG sebenarnya) mengenai overall analysis implementasi SCALA di semua kantor perwakilan Sempati Air di Indonesia yang pernah saya kunjungi. Presentasi saya rupanya menarik perhatian Pak Helmy Haluddin, Vice President Finance (VPF) Sempati Air saat itu, dan saya diminta untuk menganalisis hal sejenis di kota lainnya, seperti di Distrik Jakarta dan Bandara Soekarno Hatta.

Sejak selesai rapat itulah, Ibu Hanny Agustine akhirnya juga menugaskan saya untuk menangani implementasi SCALA di kantor Sempati Air di Bandara Soekarno Hatta.

Pengalaman presentasi di depan Direksi Sempati Air ini ternyata membawa dampak yang luar biasa kepada perkembangan karir saya selanjutnya. Sejak saat itu, ada semacam rasa percaya diri yang tumbuh untuk tidak grogi untuk berhadapan dengan para petinggi di sebuah organsiasi. Inilah suatu titik di mana saya mendapatkan suatu pengalaman berharga di dalam dunia profesi sebagai konsultan.

KONSULTAN ITU HARUS SIAP 24 JAM

Saat itu saya masih berstatus pengantin baru alias baru menikah. Ya, saya baru seminggu menikah (saya menikah tanggal 22 Desember 1995), dan itu menjelang tahun baru 1996. Begitu baru sampai di rumah, tiba-tiba saya ditelepon harus segera pergi ke kantor Sempati Air di Bandara Soekarno Hatta (CGK) karena ada masalah dengan server SCALA di sana. Waduh! Padahal besoknya saya harus mengawasi jalannya konsolidasi data SCALA milik Sempati Air di kantor KPMG di Jakarta. Proses konsolidasi ini bisa memakan waktu lebih dari 24 jam.

Apa boleh buat, segera saya menuju ke CGK sambil membawa perlengkapan untuk menginap selama beberapa hari. Sesampainya di CGK, saya melakukan troubelshooting segera. Syukurlah, menjelang azan Subuh, semua sudah selesai, dan begitu matahari terbit di CGK, saya pun bertolak menuju Kantor KPMG di Jalan Sudirman Jakarta.

Proses konsolidasi bukanlah sebuah proses yang sulit, tetapi membutuhkan ketelitian yang tinggi. Kesalahan yang minor bisa membuat semua proses berantakan. Dengan demikian, proses ini memang harus dikawal terus, dan tim konsultan pun tidak jarang harus menginap di kantor untuk mengawasi proses konsolidasi ini. Akhirnya saya jadi sering untuk melihat matahari terbit melalui lantai 12 Gedung Wisma Dharmala Sakti di Jalan Sudirman Jakarta … hehehehe ..

Sejak itulah, saya menjadi terbiasa untuk siap bekerja 24 jam jika diperlukan … Tentu saja tidak terus-menerus … Tetapi ini juga menjadi suatu titik yang penting untuk profesi saya sebagai konsultan selanjutnya.

EPILOG

Pada awal tahun 1997, saya tidak lagi ditugaskan di Sempati Air, tetapi saya terus mengikuti pemberitaan mengenai perusahaan ini, sampai akhirnya ditutup pada tanggal 8 Juni 1998. Terlepas dari semua masalah yang terjadi pada perusahaan ini, jujur saja, saya termasuk yang cukup sedih dengan tutupnya perusahaan ini. Walau bagaimanapun, masa-masa ditugaskan di perusahaan ini adalah salah satu tonggak penting dalam hidup saya ke depan, terutama profesi sebagai konsultan.

Salam
Riri Satria

About these ads

4 responses

  1. Pengalaman naik Pesawat dalam negeri pertama kali SEMPATI AIR :-)

  2. sempati air saya sangat merindukan maskapai ini pertama kali menaiki pesawat menggunakan sempati air.
    Pelayanan sangat memuaskan
    saya sangat sedih mendengarkan kebangkrutan,
    berhrap ada maskapai penerbangan seperti ini pada saat sekarang ini sehingga bisa menyaingi Garuda

  3. nice share pak, pengalaman yang menarik
    banyak yg bisa saya ambil di sni, mulai dari perjuangan seorang seperti bapak meniti karir, sampai kepada pengetahuan mengenai sempati air sendiri…

  4. Bapak Saya Bekerja Di Maskapai Penerbangan ini ( Sempati Air) , Saya sangat Ingin Mempunyai Maskapai Terhebat ini.., saya Bercita-Cita Membangkitkan SEMPATI AIR,

    Thank You For your Information..

    M Naufal Rafi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.380 pengikut lainnya.