WISUDA UNIV. INDONESIA SEPTEMBER 2011
Tadi siang (Sabtu, 17 September 2011) berlangsung acara Wisuda Program Pascasarjana (S2 dan S3) Fakultas Ilmu Komputer universitas Indonesia di Depok. Pada tahun ini, Fakultas Ilmu Komputer memisahkan acara wisuda untuk program Sarjana (S1) dan Pascasarjana (S2 dan S3), karena jumlah wisudawan yang cukup banyak dan tidak tertampung dalam aula atau ruangan yang dipergunakan. Pada semester ini, Program Magister Teknologi Informasi meluluskan 96 wisudawan, Program Magister Ilmu Komputer meluluskan 14 wisudawan, dan 1 orang lulusan program Doktor Ilmu Komputer.
Dari 96 wisudawan Program Magister Teknologi Informasi, 10 diantaranya mengerjakan karya akhir / tesis dibawah bimbingan saya, yaitu Arvian, Morteza, Rinto, Fernando, Farida, Adinugraha, Petrus, Pura, Linardi, dan Andrew. Dua diantaranya lulus dengan predikat cumlaude yaitu Arvian dan Morteza, dan Arvian adalah lulusan terbaik Program Magister Teknologi Informasi UI pada semester ini dengan indeks prestasi 3.5.
Seperti halnya para dosen lainnya, upacara wisuda adalah saat-saat yang mengharukan buat saya, di kebahagiaan terpancar dari wajah-wajah para wisudawan dan dosen pun merasa sudah berhasil menjalankan tugasnya dengan baik.
Selamat untuk para wisudawan, sukses selalu untuk karirnya ke depan.
Salam
Riri
ADA APA DENGAN UNIVERSITAS INDONESIA? #saveUI
Tadi pagi sampai siang (12 September 2011) saya mengikuti acara press release mengenai gerakan moral pembenahan tata kelola kampus Universitas Indonesia (UI) berlokasi di aula Fakultas Ilmu Komputer – Universitas Indonesia (Fasilkom-UI). Saya mendapatkan informasi mengenai acara ini melalui pengurus pusat Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) yang menyebarkan sms undangan terbuka sehari sebelumnya, untuk hadir pada acara tersebut. Informasi yang saya peroleh, beberapa Ketua Umum Ikatan Alumni Fakultas di UI juga berencana hadir, maka saya merasa saya perlu hadir juga, karena status saya sebagai Ketua Umum Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer UI (Iluni Fasilkom-UI).
Saya mengikuti acara tersebut dari awal sampai akhir, dimulai jam 10 pagi sampai jam 1 siang. Para peserta yang hadir di dalam aula Fasilkom-UI sangat beragam, mulai dari beberapa Dekan Fakultas di lingkungan UI, para dosen dan guru besar, para mahasiswa, beberapa pengurus ikatan alumni, serta tentu saja para wartawan dari berbagai media (namanya juga press release). Acara dipandu oleh 3 (tiga) orang, yaitu Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI, kemudian juga Effendi Gozali dan Ade Armando, keduanya adalah dosen pada FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) UI.
Berikut adalah ringkasan yang saya buat mengenai apa-apa yang dibahas atau disampaikan pada acara tersebut :
1. Sesungguhnya isu mengenai pemberian gelar Doktor Honoris Causa kepada Raja Saudi Arabia bukanlah isu utama yang saat ini menjadi fokus perhatian civitas akademia UI. Pemberian gelar tersebut hanyalah salah satu puncak gunung es tentang apa yang terjadi di Kampus UI saat ini, yaitu buruknya tata kelola (governance) organisasi kampus UI. Civitas akademia UI menyadari bahwa gelar yang sudah diberikan tersebut tidak bisa dicabut kembali, dan untuk itu, civita akademia UI tidak akan mempersoalkan lagi dan menganggap hal tersebut sudah tidak masalah lagi. Walaupun demikian, ini akan menjadi pelajaran yang berharga untuk kampus UI, terutama dalam pemberian gelar Doktor Honoris Causa ke depan.
Baca entri selengkapnya »
TENDANGAN DARI LANGIT
Masih dalam suasana liburan Idul Fitri, maka ada satu lagi film yang menarik untuk ditonton bersama keluarga, yaitu Tendangan Dari Langit. Film ini berkisah tentang Wahyu, seorang anak remaja SMA dari Desa Langitan di dekat kota Malang – Jawa Timur, yang memiliki bakat bermain sepakbola. Sayang, bakat dia ini ditentang oleh ayahnya, yang diceritakan dulu juga pemain sepakbola di klub Persema Malang, tetapi karirnya habis karena terus dirundung cedera. Bakat Wahyu ini dimanfaatkan oleh pamannya yang selalu mengajak Wahyu untuk ikut dalam pertandingan sepakbola antar kampung di sekitar desanya.
Seperti halnya sebuah film, ceritanya memang penuh konflik, yaitu konflik Wahyu dengan ayahnya di mana ayahnya melarang dia bermain sepakbola karena trauma dan khawatir Wahyu bernasib seperti dirinya, lalu ada konflik antara ayah Wahyu dengan pamannya karena memiliki pandangan yang berbeda mengenai sepakbola dan masa depan Wahyu, juga ada konflik kisah cinta khas anak remaja SMA, dan konflik tertinggi adalah konflik batin pada diri Wahyu mengenai jalan hidupnya termasuk ketika dia gagal masuk seleksi tim Persema Malang karena ada kelainan pada lututnya.
Satu persatu konflik selesai, dan akhirnya Wahyu menjadi bagian dari tim Persema Malang. Proses penyelesaian konflik dibuat cukup menarik dan juga melibatkan logika penyelesaian konflik khas anak remaja SMA. Penyelesaian konflik yang dramatis adalah penyelesaian konflik antara Wahyu dan ayahnya. Ego ayahnya luluh setelah melihat tekad Wahyu dan dia juga mulai terbuka terhadap berbagai perkembangan baru.
Film ini memberikan banyak pesan moral, mengenai sikap pantang menyerah, persahabatan, sampai bagaimana membangkitkan kepercayaan diri. Film ini juga memberikan edukasi kepada kita semua bagaimana cedera pada pemain sepakbola harus ditangani secara profesional oleh seorang fisioterapi sehingga pemain cepat pulih kembali.
Kehadiran Irfan Bachdim dan Kim Jefrey Kurniawan dalam film ini memang lebih banyak sebagai pemanis dan sebagai faktor untuk menarik penonton, karena memang mereka bukanlah tokoh sentral film, walaupun posisinya adalah menjadi ikon atau idola dari tokoh utama, yaitu Wahyu. Justru peran ayah Wahyu yang dimainkan oleh Sudjiwotejo lah yang menjadi sangat sentral dalam film ini dan Sudjiwotejo memerankannya dengan sangat baik. Bahkan peran yang dimainkan Matias Ibo sebagai dirinya sendiri lebih besar karena dia harus menjelaskan bagaimana manangani cedera pada pemain dan apa itu profesi fisioterapis dalam sebuah tim sepakbola.
Saya memberikan nilai 8.5 pada skala 1 – 10 untuk film ini, dan merekomendasikannya untuk ditonton bersama keluarga. Apalagi soundtrack yang dibuat oleh grup band Kotak juga sangat atraktif menemani kita menikmati film ini.
Salam
Riri
LIMA ELANG
Pada saat liburan Idul Fitri ini, ternyata ada beberapa film yang bagus yang layak ditonton oleh anak-anak, salah satunya adalah Lima Elang. Film ini berkisah mengenai kepramukaan, suatu aktivitas yang mungkin sudah tidak populer di kalangan anak-anak di perkotaan.
Saya memang sengaja mengajak kedua anak saya menonton film ini, karena memang kisah ceritanya adalah anak SD, alur cerita yang simpel, tidak membosankan, dan beberapa pesan-pesan moral juga ada untuk mereka. Satu hal yang menarik adalah lokasi ceritanya tidak di kota besar, melainkan di Kalimantan Timur, tepatnya kota Balikpapan dan Bumi Perkemahan Bangkirai.
Walaupun film ini berkisah tentang anak SD, tetapi pada film ini juga terjadi konflik antar pelakunya. Konfliknya adalah perbedaan kepentingan antar pelaku yang memang memiliki latar belakang yang berbeda. Rusdi, anak daerah setempat yang sangat mencintai kepramukaan, lalu ada Baron, anak pindahan dari Jakarta yang terpaksa ikut pramuka, ada Sindai, cewek yang akrab dengan suasana hutan setempat, serta Aldi yang agak egois dan Anton.
Konflik ini dapat diselesaikan dan bahkan mereka menjadi kompak karena mereka menghadapi tantangan yang sama, dalam hal ini adalah penjahat penebang liar di tengah hutan. Rekonsiliasi konflik antar pelaku memang dapat diselesaikan dengan simpel sesuai dengan logika penonton yang menjadi target, yaitu anak SD. Jadi mohon orang tua tidak menilai film ini dengan menggunakan logika orang dewasa yang kompleks, karena memang film ini bukan untuk orang dewasa, dan memang cenderung menyederhanakan persoalan.
Saya memberikan nilai 8 dari skala 1 – 10 untuk film ini dengan dasar logika anak-anak tentunya. Dengan demikian saya merekomendasikan film ini untuk ditonton.
Salam
Riri Satria
PROFESI FREELANCE CONSULTANT .. TERTARIK?
(Ini adalah tulisan lama yang saya revisi dan tayangkan kembali. Tulisan aslinya pernah dimuat pada harian Republika pada tahun 1999, sekitar 12 tahun yang lalu)
Apakah freelance consultant atau konsultan lepas? Mungkin inilah yang sering diplesetkan sebagai “gelandangan intelektual”, bahkan ada pendapat yang lebih nyeleneh yang mengatakan seorang freelance consultant adalah seseorang yang dirinya merasa tahu segalanya tetapi tidak diterima bekerja di mana pun. Baiklah, kita tinggalkan semua pendapat “miring” tersebut. Marilah kita lihat kemungkinan serta hal-hal yang harus diperhatikan jika ingin bekerja sebagai freelance consultant.
Freelance consultant secara definisi adalah konsultan yang bekerja sendiri dan tidak berafiliasi dengan consulting firm mana pun. Keadaannya mirip dengan dokter yang membuka praktek sendiri, tidak berafiliasi dengan rumah sakit tertentu, dan juga tidak bermitra dengan dokter-dokter yang lain untuk membuka praktek bersama.
Kenyataan sehari-hari menunjukkan bahwa tidak begitu mudah untuk menjadi seorang freelance consultant, dan bahkan risiko untuk gagal juga besar. Tetapi jika tetap ingin mencoba, tidak ada salahnya untuk memperhatikan beberapa hal berikut ini.
Pertama, tentu harus profesional. Merujuk kepada definisi yang diberikan oleh International Labour Office (ILO) mengenai konsultansi manajemen, dengan sedikit modifikasi dan generalisasi, maka definisi konsultan secara umum adalah seseorang yang yang memiliki kualifikasi tertentu di bidang keahliannya, mampu mengidentifikasi dan menginvestigasi persoalan yang muncul pada kliennya sesuai dengan bidang keahliannya, mampu merekomendasikan berbagai tindakan yang relevan, serta mampu membantu klien mengimplementasikan rekomendasi tersebut. Kualifikasi tersebut akan lebih baik lagi jika dibuktikan dengan memiliki sertifikasi keahlian tertentu, seperti Certified Microsoft Engineer di bidang komputer, Sertifikasi Audit Sistem Informasi (CISA), dan berbagai jenis sertifikasi lainnya.
Baca entri selengkapnya »






