Riri Satria

Founder and CEO pada Value Alignment Advisory (VA2) sebuah perusahaan konsultan dan riset bidang manajemen dan organisasi | Saat ini dikenal sebagai salah satu konsultan manajemen stratejik, balanced scorecard, dan pengembangan organisasi di Indonesia | Dosen pada Program Magister Teknologi Informasi Universitas Indonesia (MTI-UI), program Magister Manajemen (MM) PPM, serta program Master of Information Technology Swiss-German University (MIT-SGU) | Meminati topik ekonomi, manajemen, teknologi informasi, dan sosial kemasyarakatan | Juga menyukai fotografi, musik, dan sastra | Sekarang tinggal di kawasan Cibubur – Kab. Bogor | Kontak via email ke ririsatria.va2@facebook.com

PAGELARAN BUDAYA NUSANTARA – SD ISLAM AL-JANNAH

| Leave a comment

Sebenarnya saya masih belum fit setelah sakit beberapa waktu yang lalu. Tetapi keinginan saya begitu besar untuk melihat anak saya Nadya tampil pada Acara Pagelaran Budaya Nusantara yang diselenggarakan oleh sekolahnya, SD Islam Al-Jannah. Pada acara tersebut Nadya dan teman-teman sekelasnya membawakan budaya Papua dan tari Yamko Rambe.

Antusias Nadya sudah terlihat sejak beberapa hari yang lalu. Bahkan dia menanyakan apakah saya sudah cukup sehat dan bisa melihat dia tampil di sekolah. Nah, apapun kondisinya saya upayakan datang ke sekolahnya walaupun tidak lama, dan saya pulang setelah dia tampil di pentas.

Congratulations my lovely little angel .. Daddy loves you!

bdy00

bdy01

bdy06

bdy12

bdy11

bdy09


1 Komentar

LEBAY

lebaySalah satu kata-kata yang sering kita jumpai dalam pergaulan sehari-hari saat ini adalah “lebay”. Saya tidak tahu dari mana asal-usul kata ini. Saya coba telusuri berbagai pendapat mengenai makna kata “lebay” ini melalui Google. Rupanya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata-kata “lebay” tidak ada. Jadi ini benar-benar sebuah istilah dalam pergaulan sehari-hari dan bukanlah kata baku dalam Bahasa Indonesia. Singkat cerita, semua penelusuran saya mendapatkan jawaban bahwa “lebay” itu berarti “berlebihan”, “sesuatu yang di luar kewajaran atau kepatutan”, atau juga “keterlaluan”, ada juga “berpura-pura yang bertujuan untuk mencari perhatian”.

Misalnya begini, seorang pemain sepakbola diganjal sedikit saja oleh lawannya lalu jatuh terguling-guling sambil berteriak kesakitan, padahal ganjalan itu tidak ada artinya sebenarnya. Ini termasuk kategori “lebay”. Tujuannya adalah menarik perhatian wasit supaya memberikan hukuman yang berat kepada lawannya, padahal beradu fisik seperti itu adalah wajar dalam sepakbola. Kecuali kalau itu memang sebuah pelanggaran berat, maka urusannya jadi lain. Di sini makna “lebay” adalah memang “berlebihan” dan “berpura-pura untuk mencari perhatian”.

Tetapi bahasa memang tidak bisa dilepaskan dari aspek kultural. Saya sendiri pernah mendengar seorang kawan yang kena tilang sama polisi karena dia melanggar lalu-lintas, lalu sang polisi tidak mau diajak “damai” dan tegas menilang, maka si kawan saya ini bilang polisi itu “lebay”. Nah, di sini kita memang harus kritis, apakah benar si polisi itu “lebay”? Polisi itu menjalankan tugasnya sesuai dengan aturan yang ada, dan tidak ada yang berlebihan di sini. Hanya saja kata-kata “lebay” di sini muncul karena terdapat perbedaan antara ekspektasi dan kenyataan yang dialami oleh di kawan saya tersebut. Dia memiliki ekspektasi si polisi akan mau diajak “damai” seperti kebanyakan polisi lainnya, tetapi ternyata polisi yang satu ini tidak. Maka si polisi diberi label “lebay”. Di sini makna “lebay” yang diberikan jelas berbeda dengan makna lebay yang “berlebihan” atau “sesuatu yang di luar kewajaran atau kepatutan” tadi. Di sini makna “lebay” sudah berubah karena ada aspek kultural (atau perilaku) yang tidak terakomodasi dengan situasi, maka cap “lebay” pun diberikan kepada si polisi.

Akhirnya makna “lebay” yaitu “berlebihan” atau “sesuatu yang di luar kewajaran atau kepatutan” memang menjadi sangat subyektif bahkan sumir. Dengan mudah orang akan memberikan label “lebay” untuk sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspektasinya. Bahkan orang yang menjalankan tugas sesuai dengan yang aturan yang seharusnya pun bisa diberi cap “lebay” apabila orang lain memiliki ekspektasi agar aturan tersebut tidak dijalankan.

Pada tingkat yang lebih mendalam lagi, label “lebay” pun bisa diberikan kepada orang lain yang memiliki prinsip hidup yang berbeda. Prinsip hidup yang berbeda menghasilkan ekspektasi yang berbeda, dan kata-kata “lebay” pun bisa mudah dilekatkan. Ada yang lebih parah lagi, di mana ada orang yang dengan mudah memberikan cap “lebay” kepada orang lain, padahal dia sendiri tidak memiliki patokan apa-apa mengenai “lebay” itu.

Ah, jangan-jangan tulisan ini pun dianggap “lebay” .. hehehehe ..

Salam
Riri


Tinggalkan Komentar

KADO DARI RAIHAN

raihankwt1

Ada yang terasa sangat istimewa pada hari ulang tahun saya kemarin. Saat sedang istirahat, tiba-tiba anak laki-laki saya Raihan masuk dan dengan wajah berbinar melaporkan bahwa dia mendapatkan Juara III Lomba Karya Tulis tentang Kuwait (tingkat SMP) dalam rangka Kuwait-Day di sekolahnya, Sekolah Islam Terpadu Fajar Hidayah – Cibubur.

Apa yang dicapai oleh Raihan mengingat saya ke masa-masa saya SMA dulu. Saat itu, saya beberapa kali mendapatkan juara dalam lomba karya tulis dan puncaknya adalah saat saya mendapatkan Juara I Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Nasional bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Entah kenapa, tiba-tiba saya seolah-olah melihat cerminan diri saya sendiri di wajah Raihan … Congratulations my boy .. well done! .. Semoga kamu jauh lebih baik daripada papamu ini … amin.


Tinggalkan Komentar

KONTEMPLASI

pagi01

14 Mei 2013, tepat saya berusia 43 tahun. Selama itulah saya diberi karunia oleh Yang Maha Kuasa berupa kehidupan dengan segala dinamika, serta suka dan dukanya. Entah berapa lama lagi jatah umur ini tersisa, itu adalah rahasia Sang Pemilik Kehidupan. Biasanya momen seperti ini selalu saya pergunakan untuk sedikit melakukan perenungan, melayangkan pikiran mengenai kilas balik perjalanan hidup. Apakah yang sudah saya berikan kepada kehidupan ini?

Setiap kita memiliki banyak dimensi dan status dalam masyarakat. Saya sendiri juga begitu, ada status sebagai anak, suami, bapak, bagian dari keluarga besar, juga status sosial sebagai dosen, konsultan, dan mungkin juga status-status lainnya. Sejauh manakah saya menjalankan semua peran itu dengan baik?

Pada ulang tahun kali ini, Allah SWT mungkin menyuruh saya berkontemplasi lebih lama. Dia menyuruh saya banyak merenung dengan cara “memaksa” saya istirahat lebih panjang. Ya, saya baru saja keluar dari opname di rumah sakit terkena DBD. Trombosit sempat drop sampai angka 38 ribu di mana batas normal itu adalah 150 ribu. Saat ini saya sedang masa pemulihan. Pekerjaan sudah menunggu di luar sana. Mahasiswa sudah menunggu di kampus. Klien juga sudah menunggu berbagai lanjutan pekerjaan. Tetapi begitulah, ternyata saya “diharuskan” menikmati suasana rumah lebih lama, berkontemplasi lebih banyak, dan sejenak melupakan semua akivitas tersebut.

Saya punya kesempatan memahami rumah saya sendiri lebih lama, menata ini dan itu terutama di halaman, juga jalan kaki pagi keliling kompleks perumahan, punya waktu lebih banyak dengan anak-anak, memotret dan menikmati matahari pagi, dan sebagainya. Meminjam istilah anak saya, “Papa harus di-charge dulu ..

Selalu ada rahasia dan hikmah di balik sesuatu. Dari situlah sebetulnya kita bisa menarik banyak hal sebagai pembelajaran dalam hidup ..

Salam
Riri


Tinggalkan Komentar

SCHOOLS THAT LEARN

DSC_0610Kajian mengenai knowledge management dan learning organization sudah lama menjadi perhatian dan minat saya. Saya ikut mengasuh kuliah ini di program Magister Manajemen di Sekolah Tinggi Manajemen PPM, dan bahkan pernah menduduki jabatan sebagai knowledge manager pada Lembaga Manajemen PPM pada kurun waktu tahun 2003 – 2004 (sebelum akhirnya saya resign dari Lembaga Manajemen PPM tahun 2004).

Salah satu tokoh pemikir yang mengembangkan konsep learning organization yang saya kagumi adalah Peter Senge. Beliau dikenal dengan pemikirannya mengenai learning organization yang dikemas dalam kerangka “the fifth discipline“. Peter Senge secara apik menjelaskan konsep learning organization itu dengan detail menggunakan kerangka systems thinking. Selain melakukan pembelajaran dengan “gaya Barat”, Peter Senge juga menganut paham spiritualitas Timur dimana dia menganut spiritualitas Zen / Buddha.

Beberapa buku yang menjadi turunan dari buku “The Fifth Discipline” sudah ditulis oleh Peter Senge bersama para penulis lainnya. Dua buku Peter Senge terakhir sangat menarik karena berkaitan dengan penerapan systems thinking pada sosial masyarakat. Kedua buku tersebut adalah “Presence: An Exploration of Profound Change in People, Organizations, and Society” (2005), serta “The Necessary Revolution: How Individuals and Organizations Are Working Together to Create a Sustainable World” (2008).

Tetapi pada tulisan ini saya akan membahas pemikiran Peter Senge yang berkaitan dengan pendidikan. Ini dikarenakan saya menemukan buku Peter Senge yang sangat menarik buat saya sekitar 10 tahun yang lalu, tetapi kali ini edisi revisi, yang berjudul “Schools That Learn”.

Buku ini merupakan alternatif pemikiran yang diberikan oleh Peter Senge mengenai pendidikan dan sekolah, terutama konsep tentang sekolah. Akhir-akhir ini banyak kritik yang diberikan kepada sekolah (mulai dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi). Kritik itu mengatakan bahwa sekolah banyak (tentu tidak semua) dianggap gagal karena tidak mampu menghasilkan lulusan yang “sesuai dengan kebutuhan kehidupan”, melainkan membuat anak didiknya semakin jauh dari kehidupan. Kalau mengutip penyair terkenal di tanah air, W.S. Rendra, ” … apakah gunanya pendidikan .. jika akan membuat seseorang merasa asing dengan lingkungannya ..”. Sekolah hanya menghasilkan para penghafal teori dan konsep yang tidak tanggung-tanggung banyaknya, tetapi gagal menjadikan lulusannya sebagai seorang “pembelajar kehidupan”.

Mengapa sekolah gagal menghasilkan lulusan sebagai “pembelajar kehidupan”? Mengapa sekolah hanya mampu menghasilkan lulusan dengan kualifikasi “penghafal teori dan konsep”? Bahkan Robert Kiyosaki tanpa basa-basi menulis buku yang judulnya “If You Want to be Rich and Happy, Don’t Go to School”. Ini adalah suatu perspektif kritis terhadap proses yang terjadi di dalam sekolah. Tentu kita tidak bisa mengatakan semua sekolah seperti itu. Tetapi kritik ini perlu mendapatkan perhatian serius.

Peter Senge mengatakan bahwa kegagalan sekolah untuk menghasilkan lulusan sebagai “pembelajar kehidupan” dan hanya mampu menghasilkan “penghafal teori dan konsep” karena sekolah itu sendiri bukanlah sebuah learning organization. Bagaimana mungkin sebuah organisasi yang bukan learning organization mampu menghasilkan lulusan dengan “learning behavior” yang tinggi. Kalau pun ada, itu bukan kerena suksesnya sekolah, melainkan “dari sononya” si peserta didik memang sudah memiliki “learning behavior” yang baik, atau mendapatkan tempaan lain di luar sekolah yang mampu membentuk “learning behavior” tersebut (misalnya dari keluarga, lingkungan, dan sebagainya).

Peter Senge berargumen bahwa institusi sekolah harus menjadi learning organization terlebih dahulu, baru sekolah mampu menerapkan learning behavior kepada peserta didiknya, dan akhirnya menghasilkan lulusan dengan learning capability yang tinggi (bukan sekedar penghafal teori dan konsep). Sekolah harus mentrasformasi dirinya menjadi “school that learn” seperti yang diuraikan oleh Peter Senge dalam buku tersebut. Selama sekolah bukan sebuah “school that learn“, maka kritik dan sikap skeptis terhadap sekolah akan terus berlangsung.

Seperti apakah “school that learn itu“? Menurut resensi yang ditulis oleh Harvard Educational Review, maka “school that learn” memiliki prinsip dasar sebagai berikut :

In Schools that Learn, Peter Senge argues that teachers, administrators, and other members of school communities must learn how to build their own capacity; that is, they must develop the capacity to learn. From Senge’s perspective, real improvement will only occur if the people responsible for implementation design the change itself: “It is becoming clear that schools can be re-created, made vital, and sustainably renewed not by fiat or command, and not by regulation, but by taking the learning orientation”.

Proses pembelajaran bukanlah sebuah proses yang dilakukan atas sebuah komando, atau ketatnya aturan ini dan itu, melainkan berorientasi kepada proses pembelajaran itu sendiri. Proses ini sangat spesifik dan unik untuk setiap organisasi, juga untuk individu, bahkan untuk setiap komunitas masyarakat tertentu.

Ada pemikiran Peter Senge yang perlu kita perhatikan dan renungkan, bahwa :

Importantly, Senge offers no prescriptions for success. He believes that, in order to be effective, solutions must be developed locally, not by “specialists” who sit far outside classroom and school walls.

Buku ini sangat layak dibaca oleh para praktisi pendidikan atau siapapun yang menaruh minat dalam pendidikan. Buat saya pribadi, buku ini memberikan pencerahan yang sangat bagus mengenai sekolah dan pendidikan, setidaknya untuk profesi saya sebagai dosen di kampus ..

Salam
Riri


3 Komentar

MULTIPLY DAN FRIENDSTER : KEGAGALAN TRANSFORMASI BUSINESS MODEL

Multiply_(2013_logo)Lagi, sebuah situs jejaring sosial atau social media akan menutup layanannya. Multiply sudah mengumumankan akan menutup layanannya pada tanggal 6 Mei 2013 nanti. Situs ini tadinya adalah jejaring sosial seperti blog atau bahkan Facebook, dan bahkan bisa dikatakan salah satu pionir jejaring sosial di dunia maya. Multiply sebagai sebuah situs jejaring sosial atau social media sudah lama mati, dan Multiply yang ada saat ini adalah reborn mereka yang berganti business model menjadi situas e-commerce. Mereka pun memindahkan kantor pusatnya ke Jakarta. Tetapi akhirnya mereka pun gagal dan melalui pengumuman resmi yang dikeluarkan oleh Multiply, mereka mengakui kegagalan tersebut.

20130118020143!FriendsterIni mengingatkan kita terhadap Friendster, sebuah situas jejaring sosial atau social media yang lahir sebelum Facebook. Saya sendiri cukup lama menjadi pengguna Friendster sebelum akhirnya berpindah ke Facebook. Seiring dengan ketenaran dan keberhasilan Facebook, maka Friendster pun angkat tangan sebagai situs jejaring sosial. Layanan jejaring sosial mereka pun ditutup beberapa tahun yang lalu dan mereka pun reborn menjadi sebuah situs game online. Entah bagaimana nasibnya Friendster saat ini, tidak banyak informasi yang diperoleh. Tetapi saya menduga nasibnya pun sedang sekarat karena nyaris tidak pernah lagi dibahas orang. Saat ini kantor pusat Friendster ada di Kuala Lumpur Malaysia.

Kedua kasus ini, Friendster dan Multiply, adalah kasus menarik tentang kegagalan transformasi business model. Secara konsep dan strategi rasanya sudah jelas arah transformasi mereka. Tetapi ternyata apakah strategi itu sudah benar? Ini yang jadi pertanyaan. Multiply sempat membuka kantor di Indonesia setelah mereka berubah menjadi layanan e-commerce. Padahal sebelum mereka, sudah ada contoh kasus situas e-commerce yang gagal di Indonesia karena berbagai hal. Apakah Multiply tidak belajar dari kasus ini? Entahlah. Saya memang tidak punya data riset yang rinci dan sahih, tapi dugaan saya Indonesia belumlah menjadi pasar e-commerce yang bagus.

Bagaimana dengan Friendster? Akhirnya dia pun harus berdamai dengan Facebook. Friendster pun akhir mengkoneksikan diri ke Facebook, sebagai aplikasi eksternal untuk game online. Berapa lama Friendster bisa bertahan dengan business model begini? Tetapi jangan-jangan inilah yang terbaik untuk pasar Indonesia, yaitu sebagai game provider.

Kehadiran situs jejaring sosial di internet memang sangat marak bahkan mengarah ke kondisi hypercompetition. Suatu diferensiasi yang tidak jelas akan membawa situs layanan seperti ini bertanding head-to-head dengan kompetitornya. Akhirnya mereka yang sanggup bertahan dan membangun keunggulan yang akan bertahan. Sampai saat ini mungkin Facebook masih perkasa, tetapi belum tahu kondisinya ke depan. Tetapi setidaknya manajemen Facebook menyadari hal ini dan mereka banyak membuat terobosan baru dalam fasilitas situsnya.

Bagaimana menurut anda?

Salam
Riri

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.638 pengikut lainnya.